Sekolah Rakyat Tambah 30 Ribu Siswa, BPS Pastikan Data Tepat Sasaran

  • 28 Jun 2026 18:10 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Pemerintah menargetkan total 45.000 siswa sekolah rakyat tahun ini, dengan rencana membangun gedung permanen berkapasitas 1.000 siswa di setiap kabupaten/kota.
  • Penentuan peserta didik murni berbasis data desil 1 dan 2 (10% penduduk termiskin) melalui kolaborasi ketat antara BPS, pendamping PKH, dan dinas sosial.
  • Fokus utama sekolah bukan hanya kurikulum nasional, tapi penguatan karakter yang terbukti mampu mengubah siswa dari nol hingga meraih prestasi medali.

RRI.CO.ID, Palembang - Nur Azizah berdiri tegak di atas panggung dengan kemilau lampu sorot beraneka warna. Suaranya lantang menggunakan bahasa Inggris saat membuka acara Open House Sekolah Rakyat di Sentra Budi Perkasa Palembang, Minggu, 28 Juni 2026.

Sebuah pemandangan yang mungkin sulit dibayangkan beberapa waktu lalu bagi anak seorang buruh harian lepas yang tinggal menumpang di rumah orang lain. Nur Azizah adalah satu dari ribuan potret "masyarakat tak terlihat" (the invisible people) yang penderitaannya selama ini tidak tampak, namun kini mulai menemukan harapan baru melalui Sekolah Rakyat.

Program strategis ini dirancang khusus untuk menjangkau keluarga prasejahtera yang berada di lapisan ekonomi terbawah atau desil satu dan dua. Fokusnya bukan sekadar memberikan akses pendidikan gratis, melainkan sebuah misi besar untuk memutus rantai kemiskinan secara sistemik dengan prinsip kejujuran data.

Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan, transformasi ini harus dirasakan hingga ke level keluarga. “Anaknya sekolah, orang tuanya diberdayakan, anaknya lulus, keluarganya nanti naik kelas,” ujar Gus Ipul saat memaparkan visinya untuk meningkatkan taraf hidup penerima manfaat.

Ia menargetkan, tahun ini jumlah siswa akan melonjak hingga lebih dari 45.000 anak di seluruh Indonesia, meningkat drastis dari tahun sebelumnya yang berjumlah 15.000 siswa. “Tahun ini kita menambah lagi lebih dari 30.000 siswa. Sebelumnya sudah lebih dari 15.000. Jadi tahun ini sudah lebih dari 45.000 siswa yang akan mengikuti pembelajaran di sekolah rakyat," ungkapnya.

Gus Ipul mengatakan, program strategis ini dirancang untuk menjangkau keluarga prasejahtera yang berada di lapisan ekonomi terbawah atau desil satu dan dua. Fokusnya bukan sekadar memberikan akses pendidikan gratis, melainkan sebuah misi besar untuk memutus rantai kemiskinan secara sistemik.

Penampilan kesenian kuda lumping yang dibawakan oleh siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 Palembang pada kegiatan Open House Sekolah Rakyat di Sentra Budi Perkasa Palembang, Minggu, 28 Juni 2026. (Foto: RRI/Rian Apridhani)

Di Palembang, Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 7 mulai menunjukkan hasil yang luar biasa dalam mengubah karakter dan kemampuan akademik siswa. Kepala Sekolah Diana Nursanti menceritakan bagaimana perubahan drastis terjadi pada kemampuan dasar anak didiknya. “Luar biasa. Sebelumnya itu kalau satu kelas itu 25 yang bisa baca cuma tiga orang, sekarang boleh dilihat tuh medali-medalinya,” tutur Diana bangga.

Menurut Diana, kurikulum yang digunakan tetap mengacu pada standar nasional, namun pendekatan karakternya sangat berbeda karena siswa diterima tanpa tes akademik. “Karena anak-anak ini kan dengan latar belakang dan juga kemampuan yang berbeda, tidak ada tes potensi akademik. Jadi di awal ada masa persiapan, di sinilah siswa belajar untuk karakter dulu,” jelasnya. Meski prestasi meningkat, SRMA 7 harus membatasi kuota siswa baru tahun ini menjadi 60 orang karena keterbatasan asrama, sembari menunggu pembangunan gedung permanen yang direncanakan mulai Agustus mendatang.

Ketepatan sasaran menjadi kunci utama agar program ini tidak salah alamat. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menjelaskan, penentuan siswa dilakukan melalui verifikasi ketat berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional. “Penjangkauan sekolah rakyat ini berbasis kepada data tunggal sosial ekonomi nasional dan tentunya BPS daerah berkolaborasi dengan pendamping PKH melakukan verifikasi terhadap calon-calon peserta didik,” terang Amalia. Ia menambahkan, proses pengecekan lapangan dilakukan bersama pendamping PKH untuk memastikan peserta benar-benar berasal dari 10 persen penduduk terbawah.

Gus Ipul memastikan ke depan, infrastruktur akan terus ditingkatkan dengan target setiap kabupaten dan kota memiliki satu gedung permanen sekolah rakyat yang mampu menampung hingga 1.000 siswa. Dengan dukungan penuh dari Presiden Prabowo, program ini diharapkan melahirkan generasi emas yang tangguh, berkarakter, dan menjadi agen perubahan bagi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....