Hutama Karya Bangun Tujuh Dapur MBG di Sumsel

  • 27 Jan 2026 16:38 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Hutama Karya akan membangun 80 titik dapur SPPG yang tersebar di tujuh provinsi. Sebarannya meliputi Aceh empat titik, Sumatera Utara 35 titik, Sumatera Barat 12 titik, Riau 6 titik, Kepulauan Anambas 1 titik, Jambi 15 titik, dan Sumatera Selatan 7 titik.

Adapun tujuh dapur MBG yang bakal dibangun di Sumsel, yakni, Kelurahan Tanjung Kupang (Kabupaten Empat Lawang), Desa Sri Mulyo (Kabupaten OKU), Desa Raman Agung (Kabupaten OKU Timur).  Desa Kurungan Nyawa (Kabupaten OKU Timur), Desa Kedaton (Kabupaten OKU), Kelurahan Rahma (Kota Lubuk Linggau), dan Kelurahan Tanjung Batu (Kabupaten Ogan Ilir).

Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan pemenuhan gizi membutuhkan fasilitas layanan yang tertata dan memadai, untuk mendukung layanan MBG di daerah. “ Dukungan ini juga sebagai bentuk Hutama Karya dalam memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) 2026 yang diperingati setiap 25 Januari,” katanya dari rilis yang diterima RRI Senin, 26 Januari 2026.

Pembangunan dapur SPPG di lapangan dijalankan paralel dengan pengaturan klaster. Strategi ini membantu memastikan pengadaan material, pergerakan tenaga kerja, dan penggunaan alat lebih efisien pada wilayah yang berjauhan.

Sementara dari segi fasilitas, SPPG dirancang untuk mendukung operasional dapur layanan setiap hari. Pada bangunan utama, spesifikasi menekankan higienitas melalui penggunaan dinding sandwich panel dengan pelapis antibakteri, serta pelapisan stainless steel di area masak.

Sistem tata udara juga disiapkan melalui unit udara masuk dan keluar, termasuk cooker hood, agar sirkulasi ruang kerja terjaga. HGN 2026 juga memberi konteks yang lebih luas. Peringatan ini berada dalam koordinasi Kementerian Kesehatan sebagai gerakan edukasi publik. Karena itu, keterlibatan lintas lembaga menjadi penting.

Dalam hal ini, sinergi Kemenkes, BGN, Kementerian PU, dan mitra pelaksana seperti Hutama Karya memperlihatkan bahwa layanan gizi tidak berdiri sendiri. “Ada infrastruktur yang harus siap, sebelum layanan bisa berjalan stabil dan menjangkau lebih banyak penerima manfaat, menjadi penting untuk memastikan program gizi nasional berjalan berkelanjutan dan berdampak,” pungkas Mardiansyah.

 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....