Palembang Simpan Ratusan Kuliner yang Perlu Dilestarikan
- 23 Jun 2026 15:27 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Kekayaan kuliner tradisional Palembang beragam dan belum banyak terdata, bahkan ada namanya tapi kuliner sudah tidak bisa ditemukan lagi.
Menurut budayawan Palembang, R.M Ali Hanafiah atau dikenal dengan Mang Amin, ada sekitar 300 jenis kuliner yang pernah hidup dan berkembang di Kota Palembang. Namun, sebagian di antaranya kini sudah sulit ditemukan bahkan ada yang telah punah.
Hilangnya sejumlah kuliner tradisional disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya keterbatasan bahan baku dan minimnya sumber daya manusia yang masih memiliki kemampuan membuat makanan tersebut.
“Kerupuk adaan dan roti adaan yang mulai sulit ditemukan karena bahan baku utama berupa sagu rumbia sudah tidak lagi diproduksi secara luas. Selain itu, ada pula kuliner seperti ketolo yang menghilang karena tidak ada lagi generasi yang mewarisi keterampilan pembuatannya,” ujaranya dalam keterangan kepada RRI, Minggu, 21 Juni 2026.
Sementara itu menurut Mang Amin, budaya minum kopi masyarakat Palembang tempo dulu yang erat kaitannya dengan tradisi menikmati berbagai jenis roti. Kopi biasanya dinikmati bersama aneka roti tradisional seperti roti kukus, roti goreng, roti rendang, hingga roti tawar yang dicelupkan ke adonan telur lalu digoreng.
“Dahulu keberadaan roti ko'ing yang cukup populer di kalangan masyarakat Palembang pada masa lalu. Roti tersebut kerap disantap bersama teh susu, terutama saat bulan Ramadan,” tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Mang Amin juga menyoroti pentingnya pelestarian kue-kue tradisional Palembang yang kini mulai sulit ditemukan. Ia menilai diperlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha kuliner dan instansi terkait, untuk mendokumentasikan serta mengenalkan kembali ragam kue tradisional kepada masyarakat.
Ia menyarankan adanya pelatihan bagi pelaku usaha kuliner sekaligus penelitian untuk mengetahui penyebab hilangnya sejumlah jenis kue tradisional. Dokumentasi sejarah kuliner, mulai dari asal-usul, bahan baku, hingga waktu penyajian, juga dinilai penting untuk dilakukan.
"Kita perlu mencatat riwayat setiap kue, kapan disajikan, terbuat dari bahan apa, dan bagaimana perkembangannya. Dokumentasi dalam bentuk buku maupun media digital sangat penting agar generasi muda tetap mengenalnya," katanya.
Mang Amin juga mendorong komunitas pelestari budaya untuk menghadirkan lebih banyak ragam kuliner khas Palembang pada kegiatan serupa di masa mendatang. Menurutnya, upaya tersebut dapat menjadi sarana edukasi sekaligus promosi kekayaan kuliner daerah yang merupakan bagian dari warisan budaya Palembang.
“Melalui seringnya kegiatan pengenalan kuliner, masyarakat diajak untuk mengenal kembali ragam kuliner tradisional Palembang sekaligus memahami pentingnya pelestarian warisan budaya pangan yang menjadi identitas daerah,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....