Idangan Kambangan, Tradisi Palembang dalam Menyambut Tamu
- 29 Sep 2025 19:07 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sejarah (MGMP) Provinsi Sumatera Selatan mengadakan Kegiatan Idangan Kambangan pada Sabtu, 27 September 2025 di SMKN 1 Palembang. Acara ini didukung penuh oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI Sumatera Selatan dalam bentuk Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Tahun 2025.
Acara dibuka oleh Kabid SMA Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Dra.Poniyem,M.Pd yang menyambut baik kegiatan tersebut. Ia berharap kegiatan ini dapat disampaikan pada generasi penerus, khususnya peserta didik yang berada disekolah masing-masing.
Narasumber dalam acara ini diantaranya RM Ali Hanafiah atau sering di panggil Mang Amin dan RM Ihsan atau Mang Ican. Hadir juga pada kesempatan ini Dinas Kebudayaan Pariwisata Provinsi SumSel, Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Kepala Sekolah SMKN 1 Palembang, Pembina Sanggar Tari Palembang Nian, Kepala Museum A.K Gani, Kepala Departemen Dalam dan Luar Negeri AGSI Pusat, serta para tokoh-tokoh budaya Palembang.
Sementara itu Hj. Eva Yenna, S.Pd selaku Ketua MGMP Sejarah Provinsi SumSel dalam obrolannya bersama RRI, Senin (29/09/2025) mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan budaya tradisi Idangan Kambangan kepada guru-guru sejarah se Sumatera-Selatan. Hal ini dengan harapan guru-guru dapat mengenalkan budaya tersebut kepada peserta didik. Sehingga budaya luhur Palembang dapat mereka ketahui.
"Tradisi idangan kambangan merupakan bagian penting dari budaya masyarakat Palembang yang telah ada sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam dan perlu dilestarikan. Dimana tradisi ini berlangsung sehari setelah Munggah atau prosesi pernikahan yang dilaksanakan soreh hari, tamu undangannya mayoritas perempuan,” ujarnya.
Acara tersebut menyajikan berbagai macam kue-kue tradisional khas Palembang seperti Maksuba, Delapan jam, Bolu Suri, Bolu Kojo, Srikaya dan Ketan, Tapel manis, Tapel Asin, Krupuk Besar dan lain-lain dengan penyajiannya sedemikian rupa. Botekan, Tunjungan dan Pinggiran adalah istilah dalam penyajian makanan.
Mang Amin menambahkan kue yang berada dalam Tujungan maka kue tersebut tidak boleh disentuh, tetapi kue yang ada didalam botekan dan pinggiran adalah makanan yang boleh dimakan. Penyajian macam-macam makanan di tiap-tiap rumah sangat bergantung pemiliknya.
Kalau semakin tinggi status sosial seseorang, maka makanan yang akan disajikanpun semakin beragam. Selain itu ditengah-tengah hidangan ada beberapa gadis yang bertugas melayani para tamu undangan.
“Orang tua yang anak gadisnya berada di tengah kambangan akan sangat merasa senang, dengan demikian anak gadisnya akan dikenal secara tidak langsung oleh para tamu undangan. Jika gadis tersebut menarik hati para ibu yang hadir, bukan tidak mungkin maka gadis tersebut akan dikenalkan dengan anak bujangnya.
Mang Ican mengatakan tradisi idangan kambangan mulai memudar di Palembang karena berbagai faktor,termasuk masuknya budaya global yang lebih mengutamakan tradisi prasmanan. Tradisi sajian idangan kambangan khas Palembang ini, tidak banyak di kenal masyarakat Sumsel terutama kota Palembang.
“Dulu idangan kambangan ini menjadi salah satu rangkaian acara dalam pernikahan atau hajatan besar Wong Pelembang. Hal ini sebagai bentuk menjaga silahturahmi dan kekerabatan tuan rumah dan tamu undangan yang hadir baik keluarga dekat atau siapapun,” ujar Mang Ican
Eva Yenna mewakili seluruh pengurus MGMP Sejarah Sumatera Selatan berharap dengan adanya kegiatan seperti ini dapat melestarikan dan mengenalkan kembali tradisi lama yang hampir punah. Salah satunya yakni tradisi indangan kambang, sebagai bagian gastronomi milik kota Palembang yang patut dijaga kelestariannya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....