Gulo Puan, Kudapan Kesultanan yang Hampir Punah

  • 08 Apr 2025 08:36 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Gulo puan, salah satu kuliner warisan Kesultanan Palembang Darussalam, kini nyaris punah dan hanya bisa ditemui di waktu-waktu tertentu. Dikutip dari Indonesia.go.id, makanan manis ini berasal dari Desa Bangsal, Kecamatan Pampangan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), dan dahulu hanya dikonsumsi oleh kalangan bangsawan dan keluarga kesultanan.

Berbahan dasar susu kerbau dan gula, gulo puan memiliki tekstur lembut, sedikit berpasir, serta rasa manis yang tidak enek, bahkan disebut mirip keju manis. Proses pembuatannya terbilang sederhana, yakni dengan memasak susu dan gula selama 1–2 jam hingga menjadi krim karamel. Selain sebagai kudapan, gulo puan juga berfungsi sebagai metode pengawetan susu kerbau yang melimpah di wilayah OKI pada masa lampau.

Sejarah mencatat, kudapan ini mulai dikenal saat para mato gawe—utusan kesultanan—mengunjungi daerah pinggiran Palembang dan membawa kembali hasil bumi, termasuk susu kerbau. Untuk memperpanjang daya simpan, mereka mengkaramelisasinya. Dari sinilah gulo puan mulai dikenal luas di lingkungan istana.

Kini, gulo puan hanya dapat dijumpai pada momen tertentu, seperti usai salat Jumat di pelataran Masjid Agung Palembang, dan dijual oleh pedagang kaki lima. Harganya cukup tinggi, mencapai Rp 100 ribu per kilogram, sebanding dengan kandungan gizi susu kerbau rawa yang diklaim lebih tinggi daripada susu sapi.

Gulo puan juga diyakini memiliki berbagai manfaat kesehatan, mulai dari menghangatkan badan, meningkatkan energi dan imunitas, hingga meredakan batuk. Beberapa inovasi modern bahkan menambahkan jahe atau kunyit untuk memperkaya khasiatnya.

Sayangnya, tidak semua orang dapat membuat gulo puan karena proses dan takaran yang cukup rumit. Namun demikian, pelestarian kuliner langka ini dinilai penting agar warisan budaya Sriwijaya tidak hilang ditelan zaman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....