Mindfulness Ramai Diperbincangkan, Kenali Pengertian dan Manfaatnya
- 16 Sep 2026 09:10 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Aktris Maudy Ayunda membagikan pengalamannya menerapkan mindfulness untuk mengatasi dampak negatif paparan berita buruk terhadap kondisi emosional.
- Paparan informasi berita buruk dari berbagai sumber dapat memicu perasaan marah, menangis, dan ketidakstabilan emosional yang perlu dikelola dengan baik.
- Pembahasan Maudy Ayunda tentang mindfulness mendorong publik untuk memahami konsep ini dan manfaatnya sebagai strategi kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari.
RRI.CO.ID, Palembang - Mindfulness belakangan menjadi perhatian setelah aktris dan penyanyi Maudy Ayunda membagikan pengalamannya dalam menghadapi berbagai kabar buruk yang terus berdatangan. Video yang diunggah pada Jumat 21 Agustus 2026 , Maudy mengungkapkan dirinya merasa dibombardir oleh berbagai bad news atau berita buruk, baik dari dalam maupun luar negeri.
Menurutnya, paparan informasi tersebut dapat memengaruhi kondisi emosional hingga membuat dirinya tiba-tiba merasa marah atau menangis. Pembahasan tersebut kemudian mendorong publik untuk mengenal lebih jauh konsep mindfulness. Lalu, apa yang dimaksud dengan mindfulness dan apa saja manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari?
Dikutip dari laman resmi pijarpsikologi, Mindfulness sendiri pada awal mulanya adalah suatu praktek yang digunakan untuk mengobati pikiran dan tubuh berdasarkan teknik meditasi Buddha yang kemudian dipopulerkan oleh Jon Kabat Zinn, seorang peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Massachusets. Mindfulness bisa didefinisikan sebagai suatu keadaan pikiran dan perasaan yang hidup sepenuhnya di masa sekarang.
Mindfulness ini telah terbukti secara ilmiah dapat mengobati depresi, kecemasan, penyakit dalam, penyalahgunaan obat, dan sebagainya. Hal ini dikarenakan pada saat berada dalam keadaan mindfulness, seseorang lebih menyadari siklus tubuhnya dan fokus kepada pikirannya.
Sejumlah praktik mindfulness dapat dilakukan secara rutin untuk membantu meningkatkan kesehatan fisik, mental, serta kesejahteraan sosial. Dalam menjaga kesehatan fisik, mindfulness dapat diterapkan dengan mengubah pola pikir bahwa olahraga bukanlah sebuah beban.
Seseorang dapat secara perlahan membiasakan diri untuk menikmati setiap sesi olahraga yang dilakukan. Mindfulness juga dapat diterapkan saat makan dengan memperhatikan aroma, warna, tekstur, dan bentuk makanan.
Selain itu, seseorang dapat membayangkan proses makanan tersebut hingga sampai ke meja makan, termasuk peran tanaman, hujan, dan sinar matahari. Cara tersebut dapat membantu menumbuhkan rasa syukur atas makanan yang diperoleh.
Untuk menjaga kesehatan mental, mindfulness dapat dilakukan dengan membiasakan diri untuk sepenuhnya hadir pada masa sekarang. Kecemasan merupakan hal yang dapat dialami setiap orang dan salah satu pemicunya adalah terlalu mengkhawatirkan masa depan atau terus menyesali kejadian di masa lalu.
Karena itu, menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran pada saat ini dinilai dapat membantu mengatasi kecemasan sekaligus menjadi salah satu kunci untuk mencapai kebahagiaan. Selain itu, membangun pola pikir positif juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Dalam buku Emotional Intelligence, Daniel Goleman menyebutkan bahwa orang yang memiliki pandangan cerah cenderung lebih mampu menghadapi keadaan sulit, termasuk persoalan yang berkaitan dengan kondisi medis. Sementara itu, dalam meningkatkan kesejahteraan sosial, mindfulness dapat diterapkan dengan belajar mengenali emosi yang sedang dirasakan.
Seseorang perlu memahami penyebab munculnya emosi tertentu, misalnya membedakan apakah rasa gelisah muncul karena kesedihan setelah gagal mendapatkan pekerjaan yang diinginkan atau karena kemarahan akibat perkataan orang lain yang menyakiti hati. Kash dan Diener juga menjelaskan bahwa orang yang bahagia dapat menggunakan emosinya sebagai radar untuk mengenali kondisi dirinya serta lingkungan sosial di sekitarnya.
Praktik lainnya adalah berusaha melepaskan berbagai bentuk keterikatan. Dalam salah satu nilai ajaran Buddha, keterikatan terhadap sesuatu dinilai dapat menjadi sumber kesengsaraan dalam kehidupan.
Keterikatan tersebut dapat berupa uang, jabatan, pasangan, kekuasaan, popularitas, dan berbagai hal lainnya. Dalam kondisi mindfulness, seseorang diharapkan dapat terbebas dari berbagai bentuk keterikatan tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....