Kenapa Orang Dewasa Jarang Tertawa? Ini Penjelasan Ilmiahnya

  • 20 Jun 2026 15:00 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Seiring bertambahnya usia, banyak orang merasa momen tertawa lepas semakin jarang terjadi. Ternyata, kondisi itu bukan sekadar perasaan, tetapi juga didukung oleh hasil kajian tentang perubahan pola hidup manusia.

Dalam buku Humour, Seriously karya Jennifer Aaker dan Naomi Bagdonas disebutkan bahwa rata-rata manusia mulai kehilangan selera humornya saat memasuki usia 23 tahun. Usia tersebut disebut menjadi titik awal ketika kehidupan mulai dipenuhi tanggung jawab yang lebih besar.

Pada fase itu, seseorang biasanya mulai memasuki dunia kerja, menghadapi tekanan hidup, dan memikirkan banyak hal terkait masa depan. Kondisi tersebut membuat ruang untuk menikmati hal-hal sederhana, termasuk tertawa, menjadi semakin berkurang.

Berbeda dengan masa kecil, anak-anak cenderung lebih mudah menemukan hal lucu dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, anak usia empat tahun disebut bisa tertawa ratusan kali dalam sehari karena belum terbebani rutinitas dan tanggung jawab.

Namun saat beranjak dewasa, frekuensi tertawa itu menurun drastis. Rutinitas yang padat dan tekanan pekerjaan membuat banyak orang lebih fokus pada target hidup dibandingkan menikmati momen kecil yang menyenangkan.

Psikolog menilai tertawa sebenarnya memiliki banyak manfaat bagi kesehatan mental dan fisik. Selain membantu meredakan stres, tertawa juga dapat memperbaiki suasana hati dan mempererat hubungan sosial.

Kehilangan kebiasaan tertawa bisa menjadi tanda seseorang terlalu tenggelam dalam kesibukan sehari-hari. Karena itu, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu untuk menikmati hidup dinilai penting.

Meski usia terus bertambah, kemampuan untuk tertawa sebenarnya tetap bisa dipelihara. Meluangkan waktu bersama orang terdekat atau melakukan hal yang disukai bisa menjadi cara sederhana untuk menghadirkan kembali kebahagiaan spontan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....