Kecanduan Ponsel Turunkan Kesejahteraan Mental

  • 29 Apr 2026 13:35 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Kecanduan ponsel semakin menjadi perhatian karena berdampak pada kesejahteraan mental. Penggunaan berlebihan dapat memicu stres, kecemasan, hingga menurunkan kualitas hidup.

Fenomena ini menjadi relevan seiring meningkatnya durasi penggunaan ponsel dalam kehidupan sehari-hari. Banyak individu tanpa sadar mengalami ketergantungan yang memengaruhi kebahagiaan dan relasi sosial.

Ilmuwan perilaku dan profesor di Harvard Business School, Dr. Arthur C. Brooks, menjelaskan, kecanduan ponsel bukan sekadar kebiasaan, tetapi berkaitan dengan sistem penghargaan otak. Dalam video YouTube kanal pribadinya yang diunggah pada 10 November 2025, ia menyoroti bahwa notifikasi dan interaksi digital memicu dopamin yang membuat pengguna terus kembali membuka ponsel.

“Kita tidak hanya menggunakan ponsel, tetapi sering kali ponsel yang ‘menggunakan’ kita melalui kebiasaan yang terbentuk,” ujar Brooks dalam tayangan tersebut.

Menurut Brooks, salah satu dampak utama kecanduan ponsel adalah berkurangnya kualitas interaksi manusia secara langsung. Hal ini berdampak pada menurunnya kepuasan emosional dan meningkatnya rasa kesepian. Ia menawarkan pendekatan lima langkah untuk mengurangi ketergantungan, di antaranya menyadari pola penggunaan, membatasi waktu layar, serta mengganti kebiasaan digital dengan aktivitas yang lebih bermakna.

Sementara itu, artikel dari Georgetown University menegaskan, kecanduan smartphone berkaitan erat dengan penurunan kesehatan mental, terutama pada generasi muda. Penggunaan berlebihan dapat mengganggu fokus, kualitas tidur, dan meningkatkan risiko depresi.

“Smartphone addiction can interfere with daily functioning and emotional well-being,” demikian disampaikan dalam artikel tersebut, menekankan pentingnya kesadaran penggunaan teknologi.

Artikel itu juga menyebutkan bahwa penggunaan ponsel secara kompulsif sering kali menjadi pelarian dari stres. Namun, alih-alih menyelesaikan masalah, kebiasaan ini justru memperburuk kondisi psikologis.

Para ahli mendorong masyarakat untuk lebih bijak menggunakan teknologi. Pengaturan waktu penggunaan dan peningkatan interaksi sosial langsung menjadi kunci menjaga keseimbangan hidup.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....