Mengenal Konsep Antifragile untuk Hidup Lebih Bahagia
- 24 Feb 2026 09:59 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Konsep antifragile atau antikerapuhan menjadi kunci penting untuk mencapai kebahagiaan yang berkelanjutan di tengah tekanan hidup. Berbeda dengan ketahanan biasa, antifragile membuat seseorang justru tumbuh lebih kuat setelah menghadapi kesulitan.
Tal Ben-Shahar, pakar studi kebahagiaan dan penulis buku "Happier, No Matter What", menjelaskan melalui Kanal YouTube Big Think yang diunggah pada 12 Septembeer 2025, hanya dua jenis orang yang tidak mengalami emosi menyakitkan. "Yang pertama adalah psikopat, yang kedua adalah orang yang sudah meninggal," ujarnya.
Ben-Shahar menekankan, belajar menerima bahkan merangkul emosi yang menyakitkan merupakan bagian penting dari kehidupan bahagia. Studi tentang emosi negatif justru menjadi komponen vital dalam bidang kajian kebahagiaan.
Konsep antifragile pertama kali diperkenalkan oleh Nassim Taleb sebagai evolusi dari resiliensi. Jika resiliensi 1.0 membuat sistem kembali ke bentuk awal setelah tekanan, antifragile justru membuat sistem tumbuh lebih besar dan kuat.
"Kita bisa melihat sistem antifragile di sekitar dan dalam diri kita," kata Ben-Shahar. "Sebagai ilustrasi, latihan beban di pusat kebugaran membuat massa otot bertambah karena proses adaptasi terhadap tekanan yang diberikan."
Dalam konteks psikologis, antifragile dikenal sebagai pertumbuhan pasca-trauma atau post traumatic growth (PTG). Berbeda dengan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) yang merusak, PTG justru membuat seseorang berkembang lebih kuat setelah mengalami tekanan.
Ilmu kebahagiaan berperan mengajarkan kondisi apa yang perlu disiapkan untuk meningkatkan kemungkinan tumbuh dari kesulitan. Namun ada paradoks dalam mengejar kebahagiaan yang perlu dipahami.
"Penelitian oleh Iris Moss dan rekan menunjukkan orang yang berkata pada diri sendiri bahwa kebahagiaan penting dan ingin mengejarnya, justru berakhir kurang bahagia," ungkap Ben-Shahar. Mereka bahkan lebih mungkin mengalami depresi.
Solusinya adalah mengejar kebahagiaan secara tidak langsung melalui model SPIRE. Akronim ini mewakili lima elemen: spiritual, fisik, intelektual, relasional, dan emosional.
Spiritualitas berkaitan dengan menemukan makna dan tujuan hidup baik di rumah maupun tempat kerja. Kesejahteraan fisik yang paling penting adalah mengelola stres dengan pemulihan yang cukup, termasuk memanfaatkan waktu liburan.
Kesejahteraan intelektual ditandai dengan rasa ingin tahu dan keterlibatan mendalam dengan berbagai materi. Kesejahteraan relasional menjadi prediktor nomor satu kebahagiaan, yaitu waktu berkualitas dengan orang yang kita sayangi.
"Kondisi nomor satu yang bisa kita siapkan untuk meningkatkan kemungkinan antifragile adalah kualitas hubungan kita," tegas Ben-Shahar. Sementara kesejahteraan emosional mencakup merangkul emosi menyakitkan dan menumbuhkan emosi positif seperti rasa syukur.
Cicero pernah menyatakan bahwa rasa syukur adalah ibu dari semua kebajikan. "Ketika kita mengapresiasi hal baik dalam hidup kita, kita akan memiliki lebih banyak hal baik," kata Ben-Shahar.
Ben-Shahar menegaskan kebahagiaan bukan sekadar kesenangan, melainkan kesejahteraan menyeluruh. Lima elemen dalam model SPIRE bersama-sama menciptakan kebahagiaan yang utuh seperti cahaya matahari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....