Peran Guru BK di Sekolah Kini Semakin Berkembang

  • 11 Agt 2026 21:20 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Mahasiswi Bimbingan Konseling Universitas Sriwijaya, Fitria dan Ghina, hadir di acara Sore Ceria Pro 2 RRI Palembang untuk meluruskan pandangan masyarakat tentang peran guru BK.
  • Persepsi umum yang salah menganggap guru Bimbingan Konseling hanya identik dengan guru galak yang memanggil siswa bermasalah.
  • Peran guru BK sesungguhnya jauh lebih luas dan kompleks daripada sekadar menangani siswa yang memiliki masalah atau pelanggaran.
  • Keduanya sepakat bahwa guru BK memiliki peran penting dalam pengembangan karakter siswa di sekolah.

RRI.CO.ID, Palembang - Guru Bimbingan Konseling atau BK masih sering dianggap sebagai guru yang hanya memanggil siswa bermasalah. Padahal, guru BK memiliki peran lebih luas dalam mendampingi perkembangan dan kebutuhan siswa.

Mahasiswi Bimbingan Konseling Universitas Sriwijaya, Fitria dan Ghina, meluruskan pandangan tersebut saat hadir dalam acara Sore Ceria Pro 2 RRI Palembang, Kamis, 30 Juli 2026. Keduanya menjelaskan bahwa layanan BK dapat menjadi ruang bagi siswa untuk mendapatkan pendampingan dan tempat bercerita.

Fitria mengatakan, siswa tidak harus memiliki masalah untuk datang kepada guru BK. “Enggak selalu tentang masalah, kadang ada siswa yang cuma perlu cerita-cerita saja,” ujarnya.

Ghina menilai peran guru BK semakin penting seiring meningkatnya kesadaran generasi muda mengenai kesehatan mental. Menurutnya, program BK di sekolah juga semakin berkembang dan menghadirkan pendekatan yang lebih inovatif.

Mahasiswa Bimbingan Konseling Unsri tidak hanya mempelajari teori selama perkuliahan. Mereka mulai terjun langsung ke sekolah sejak semester empat untuk menghadapi karakter siswa yang beragam.

Ghina mengatakan pengalaman di sekolah membuat mahasiswa memahami perbedaan karakter siswa dari setiap generasi. “Kami ngerasain sendiri, anak-anak zaman sekarang tuh beda banget dengan zaman kita sekolah dulu,” katanya.

Menurut Ghina, kemampuan beradaptasi dengan karakter siswa menjadi bekal penting bagi calon guru BK. Pengalaman tersebut membantu mahasiswa memahami kebutuhan siswa secara lebih langsung ketika menjalani praktik di sekolah.

Fitria mengatakan, keputusan memilih Bimbingan Konseling berawal dari keinginannya menggabungkan minat terhadap pendidikan dan psikologi. “Dari dulu pingin jadi guru tapi juga belajar psikologi, akhirnya ketemu di bimbingan konseling,” tuturnya.

Ghina juga mengaku bersyukur memilih Bimbingan Konseling sebagai bidang studinya. “Setelah lulus masih ingin di bidang ini dan berkontribusi di dunia pendidikan Indonesia,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....