Land4Lives Dampingi 12 Desa Hadapi Dampak Perubahan Iklim

  • 28 Jul 2026 21:41 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • ICRAF Indonesia menyelenggarakan Rembuk Desa Cerdas Iklim di Desa Timbul Jaya, Banyuasin sebagai bagian dari program Land4Lives yang telah berjalan selama empat tahun.
  • Kegiatan rembuk desa berfungsi sebagai forum refleksi dan evaluasi program pendampingan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.
  • Rembuk desa menjadi sarana untuk memaparkan capaian kerja tim Land4Lives bersama kelompok belajar di tingkat desa.

RRI.CO.ID, Banyuasin - ICRAF Indonesia menggelar Rembuk Desa Cerdas Iklim di Desa Timbul Jaya, Jumat, 24 Juli 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian program Land4Lives yang telah berjalan selama empat tahun.

Rembuk desa memaparkan capaian pendampingan tim Land4Lives kepada masyarakat. Forum tersebut juga menjadi ruang refleksi dan evaluasi program.

Program Land4Lives memprioritaskan penguatan ketahanan pangan masyarakat desa. Perubahan iklim dinilai mengancam produksi pangan dan pendapatan petani.

Perwakilan ICRAF, Sinta Damayanti, mengatakan beberapa desa mengalami kekeringan dan banjir berkepanjangan. Kondisi tersebut menyebabkan petani berulang kali mengalami gagal panen.

"Program ini memfasilitasi pembentukan kebun belajar berbasis agroforestri dan kebun dapur di tingkat desa," ujarnya. Perubahan kalender tanam dapat mengurangi pendapatan petani di lapangan.

Program tersebut juga melatih petani memproduksi bibit unggul secara mandiri. Pelatihan itu mengurangi ketergantungan petani kepada tengkulak.

Konsep Desa Cerdas Iklim membantu masyarakat menghadapi kekeringan dan banjir. Kelompok tani menjadi pelaku utama dalam pelaksanaan program.

Pemerintah desa mendukung pelaksanaan program bersama pemerintah tingkat kecamatan dan nasional. Kolaborasi tersebut memperkuat pengelolaan bentang lahan secara terpadu.

Program Land4Lives mendampingi 12 desa di Sumatera Selatan, termasuk Desa Timbul Jaya. Petani binaan mulai memanfaatkan pupuk organik dan pestisida nabati.

"Land4Lives ini hadir untuk 12 desa di Sumatera Selatan termasuk disini," ujarnya. Sejumlah petani juga menjadi contoh keberhasilan melalui praktik pertanian berkelanjutan.

Sinta berharap kelompok tani terus menerapkan praktik pertanian cerdas iklim. Ia juga mendorong masyarakat saling berbagi pengalaman setelah pendampingan berakhir.

Petani dampingan, Toat, mengaku memperoleh banyak pengetahuan melalui program tersebut. "Alhamdulillah sudah dipakai untuk kegiatan itu, banyak sekali hal-hal untuk pembelajaran dari mereka," katanya.

Laporan Ayu Siti Fatimah, Mahasiswa magang Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....