Pentingnya Brand dalam Membangun Daya Tarik Konsumenn

  • 31 Mei 2026 21:25 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Ignatius Untung menyebut brand harus "diingat" dan "diinginkan", bukan hanya dikenal.
  • Hierarki brand terdiri dari Familiarity, Resonate, Inspire, dan Cult.
  • Relevansi menjadi fondasi utama sebelum membangun keunikan merek.
  • Keunikan brand mencakup DNA, personalitas, asosiasi, dan pesan yang konsisten.
  • Brand yang kuat membuat konsumen tidak terlalu sensitif terhadap harga.

RRI.CO.ID, Palembang — Membangun merek tidak cukup hanya membuat konsumen mengenal nama produk. Merek yang kuat juga harus mampu menciptakan keinginan dan ikatan emosional di benak konsumen.

Pandangan tersebut disampaikan pakar pemasaran Ignatius Untung dalam program "Market Think" yang tayang di kanal YouTube Marketeers TV pada 3 November 2023. Menurutnya, banyak pelaku usaha masih terjebak pada upaya meningkatkan popularitas merek tanpa membangun alasan mengapa konsumen harus memilihnya.

Ignatius menjelaskan bahwa tujuan utama membangun brand bukan sekadar menciptakan awareness atau kesadaran merek. Sebuah brand harus mampu membuat konsumen mengingat sekaligus menginginkannya.

"Brand itu bukan cuma sekadar awareness, bukan cuma sekadar orang tahu dan orang ingat. Kalau habis itu enggak dipinginin, buat apa?" kata Ignatius Untung.

Dalam pemaparannya, ia menguraikan hierarki merek yang terdiri atas empat tingkatan, yakni familiarity, resonate, inspire, dan cult. Pada tingkat familiarity, merek dikenal karena sering muncul dan banyak dibicarakan. Sementara pada tingkat resonate, konsumen mengingat merek karena keunggulan fungsi produk.

Tingkatan berikutnya adalah inspire, ketika merek memiliki kesamaan nilai dan emosi dengan konsumennya. Adapun tingkat tertinggi, cult, terjadi saat merek menjadi bagian dari identitas dan bahkan dipuja oleh penggunanya.

Ignatius menilai banyak perusahaan terlalu fokus mengejar popularitas sesaat melalui sensasi atau tren. Strategi tersebut berisiko membuat merek cepat dilupakan ketika eksposur mulai berkurang.

Menurutnya, fondasi utama membangun merek adalah relevansi. Brand harus menemukan titik temu antara kebutuhan konsumen dan solusi yang ditawarkan sehingga memiliki posisi yang jelas di pasar.

Setelah relevansi terbentuk, perusahaan perlu membangun keunikan melalui DNA merek, personalitas, asosiasi, warna, logo, hingga pesan yang konsisten. Keunikan tersebut harus memiliki dasar yang kuat agar tidak sekadar berbeda tanpa makna.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga kehadiran merek melalui berbagai kanal komunikasi. Kehadiran yang konsisten membantu merek tetap berada dalam ingatan konsumen tanpa harus bergantung sepenuhnya pada iklan.

Selain itu, pengalaman pelanggan menjadi faktor penting dalam membangun persepsi positif. Mulai dari proses melihat iklan, mencari informasi, membeli produk, hingga layanan purnajual harus berjalan lancar dan menyenangkan.

Ignatius mencontohkan Apple sebagai merek yang berhasil menciptakan pengalaman menyeluruh bagi konsumennya. Menurutnya, kekuatan merek tidak hanya berasal dari produk, tetapi juga dari pengalaman dan nilai yang dirasakan pengguna.

Lebih lanjut, ia menjelaskan perlunya membangun emotional flavor atau rasa emosional yang membuat konsumen merasa terhubung dengan merek. Strategi ini dapat berupa nilai, semangat, atau visi yang selaras dengan keyakinan pelanggan.

Pandangan tersebut sejalan dengan artikel Binus University berjudul "Brand Awareness: Rahasia Dibalik Merek yang Selalu Diingat". Artikel tersebut menyebut bahwa kesadaran merek merupakan fondasi penting untuk menciptakan diferensiasi, menarik pelanggan baru, membangun loyalitas, dan memperkuat efektivitas pemasaran.

Artikel Binus University juga menekankan bahwa membangun brand awareness harus dimulai dari identitas merek yang jelas, menghadirkan nilai bagi konsumen, memanfaatkan komunitas, serta menciptakan pengalaman pelanggan yang positif.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....