Pemasaran Modern Dinilai Harus Fokus pada Perubahan Positif
- 30 Mei 2026 19:37 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Seth Godin menilai pemasaran modern bukan tentang manipulasi, tetapi menciptakan perubahan positif bagi audiens.
- Konsep “smallest viable audience” menekankan pentingnya fokus pada kelompok pelanggan yang spesifik dan tepat sasaran.
- Positioning dipandang sebagai bentuk pelayanan, bukan sekadar upaya membedakan diri dari kompetitor.
- Strategi perang harga murah dinilai berbahaya karena memicu persaingan menuju kualitas rendah.
- Simon Sinek melalui konsep “The Golden Circle” menekankan pentingnya menyampaikan “Why” atau tujuan bisnis.
- Pelanggan modern dinilai lebih tertarik pada merek yang memiliki nilai, tujuan, dan empati.
RRI.CO.ID, Palembang - Pemasaran modern dinilai tidak lagi sekadar menjual produk kepada sebanyak mungkin orang. Pendekatan baru justru menekankan perubahan positif dan hubungan emosional dengan audiens yang tepat.
Pandangan tersebut disampaikan penulis dan pakar pemasaran Seth Godin dalam wawancara bersama kanal YouTube MarieTV milik Marie Forleo. Video yang diunggah 13 November 2018 itu kembali ramai dibahas karena dinilai relevan dengan tren pemasaran digital saat ini.
Godin mengatakan pemasaran bukan tindakan memaksa orang membeli sesuatu. Menurutnya, pemasaran merupakan upaya membantu orang menemukan solusi yang benar-benar mereka butuhkan.
“Marketers make change happen. If you can make someone better, if you can open a door for someone, that's the act of marketing,” kata Godin dalam wawancara tersebut.
Ia menilai banyak pelaku usaha masih terjebak mengejar pasar massal. Padahal, strategi itu sering membuat produk kehilangan identitas dan gagal membangun loyalitas pelanggan.
Karena itu, Godin memperkenalkan konsep “smallest viable audience” atau audiens terkecil yang layak dilayani. Menurutnya, bisnis sebaiknya fokus kepada kelompok pelanggan yang benar-benar membutuhkan solusi spesifik.
Selain itu, Godin menegaskan konsistensi lebih penting dibanding sekadar tampil autentik. Profesionalisme, menurutnya, terlihat dari kemampuan menjaga janji merek secara stabil kepada pelanggan.
Godin juga mengkritik strategi perang harga murah dengan menyebut harga rendah hanya menjadi jalan pintas bagi bisnis yang kehabisan ide dan nilai pembeda. “Low price is the refuge for the marketer who has nothing to offer,” katanya.
Pendapat Godin sejalan dengan konsep “The Golden Circle” yang dipopulerkan pakar kepemimpinan Simon Sinek. Dalam artikelnya, Sinek menegaskan pelanggan membeli alasan dan tujuan sebuah bisnis, bukan sekadar produknya.
“People don't buy WHAT you do, they buy WHY you do it,” tulis Sinek dalam artikel “The Golden Circle”.
Sinek menjelaskan komunikasi yang dimulai dari “Why” atau alasan utama bisnis berdiri lebih mudah membangun kepercayaan pelanggan. Pendekatan itu dinilai efektif dalam membentuk loyalitas jangka panjang karena pelanggan modern dinilai lebih memilih merek yang memiliki nilai, tujuan, dan kedekatan emosional dibanding sekadar harga murah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....