Loud Budgeting: Tren Baru Lawan FOMO Demi Investasi
- 14 Jan 2026 06:57 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Era pamer kemewahan atau flexing di media sosial mulai mendapat tandingan serius. Belakangan, muncul fenomena Loud Budgeting, sebuah tren di mana anak muda justru dengan bangga menyuarakan kondisi keuangannya demi prioritas masa depan. Berbeda dengan gaya lama yang terkesan "pelit" secara diam-diam, tren ini mengedepankan keterbukaan untuk menolak gaya hidup konsumtif tanpa rasa malu.
Aji (28), seorang karyawan BUMN, menjadi salah satu yang mempraktikkan gaya hidup ini. Ia mengaku lebih tenang saat harus menolak ajakan nongkrong mahal karena memiliki target finansial yang jelas.
“Aku gak bisa ikut nongkrong ke kafe malam minggu ini, karena sedang fokus nabung emas untuk DP rumah. Sejujurnya ini lebih melegakan, dan karena kita tidak ragu untuk menyatakan, akhirnya orang-orang juga jadi ikut ter-influence,” ungkap Aji.
Dalam sebulan terakhir, keberanian Aji dalam menerapkan loud budgeting membuahkan hasil nyata. Ia berhasil menyisihkan anggaran untuk menabung emas lebih dari satu gram dari penghematan biaya gaya hidup yang biasanya menguap begitu saja.
Tren positif ini disambut baik oleh PT Pegadaian. Pemimpin Wilayah PT Pegadaian Sumbagsel, Novryandi, menilai, fenomena ini sebagai pergeseran budaya dari konsumtif menjadi produktif. Data internal menunjukkan lonjakan signifikan pada segmen nasabah muda per Desember 2025 lalu, di mana jumlah nasabah Milenial tumbuh 49 persen, sementara Gen Z melonjak drastis hingga 116 persen.
“Sederhananya loud budgeting adalah pola shifting dari habit konsumtif menjadi lebih produktif. Misalnya setiap hari beli kopi seharga Rp20 ribu, jadi menabung senilai Rp20 ribu. Emas adalah investasi safe haven yang sangat cocok untuk pola ini,” jelas Novryandi pada Senin, 12 Januari 2026.
Novryandi menambahkan, untuk mendukung fleksibilitas kaum muda, Pegadaian menyediakan platform digital bernama Tring! by Pegadaian. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat bisa mulai menabung emas dengan nominal sangat terjangkau, mulai dari Rp10 ribu.
Fenomena loud budgeting secara tidak langsung mulai mengikis stigma sosial terkait keterbatasan dana. Alih-alih merasa tertekan oleh rasa takut tertinggal (Fear of Missing Out atau FOMO), pengikut tren ini justru fokus pada pengeluaran berbasis nilai (value-based spending) yang mengalihkan dana dari kopi mahal ke aset produktif seperti saham atau emas demi fondasi keuangan yang kokoh di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....