Tren Batu Akik Meredup, Pedagang Pasar Cinde Andalkan Kolektor
- 27 Jul 2026 00:00 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Tren batu akik di Pasar Cinde, Palembang, terus meredup dengan penjualan turun hampir 50 persen dibandingkan masa puncaknya.
- Pedagang batu akik seperti Dul tetap mempertahankan usaha dengan mengandalkan kolektor dari luar daerah meskipun jumlah pembeli tidak menentu.
- Dul mengubah hobi mengoleksi batu akik menjadi usaha perdagangan dengan menjual batu seharga Rp10 ribu hingga Rp50 ribu dan gagang seharga Rp15 ribu hingga Rp30 ribu.
RRI.CO.ID, Palembang - Tren batu akik yang pernah booming beberapa tahun lalu terus meredup di Palembang. Meski penjualan menurun, pedagang di Pasar Cinde tetap mempertahankan usahanya dengan mengandalkan pembeli dan kolektor dari luar daerah.
Salah satu pedagang, Dul, masih membuka lapaknya setiap hari di Pasar Cinde, Sabtu, 25 Juli 2026. Pria berusia 58 tahun itu memilih bertahan karena usaha batu akik berawal dari hobinya mengoleksi batu.
Menurut Dul, kegemaran mengoleksi batu kemudian dikembangkan menjadi usaha agar memiliki nilai ekonomi. Sejak itu, ia mulai menjual berbagai jenis batu akik kepada para kolektor dan pecinta batu.
"Awalnya hobi koleksi batu. Daripada engga ada kerjaan, ya mending buka usaha batu akik," ujarnya.
Lapaknya menyediakan berbagai jenis batu akik dengan harga yang bervariasi sesuai kualitas. Batu akik dijual mulai Rp10 ribu hingga Rp50 ribu, sedangkan gagang cincin dipasarkan dengan harga Rp15 ribu hingga Rp30 ribu.
Sebagian besar batu berasal dari Batu Rajo serta dipasok dari Padang dan Aceh. Selain batu akik, Dul juga menjual cincin yang telah dipasang batu serta aksesori berbentuk gelang.
Menurut Dul, pembeli saat ini didominasi kolektor dari luar daerah yang masih memiliki minat terhadap batu akik. Namun, jumlah pembeli tidak menentu karena kondisi pasar berubah dari hari ke hari.
"Kalau sekarang penggemar batu sudah berkurang. Dulu memang banyak yang cari, kalau sekarang kadang laku kadang engga," ujarnya.
Ia memperkirakan penjualan batu akik turun hampir 50 persen dibandingkan saat tren mencapai puncaknya beberapa tahun lalu. Selain menurunnya minat masyarakat, persaingan dengan penjualan daring juga menjadi tantangan bagi pedagang di pasar tradisional.
Dul mengatakan banyak pembeli kini memilih memesan batu akik melalui internet tanpa datang langsung ke lapak. Kondisi tersebut membuat transaksi di pasar tidak lagi seramai sebelumnya.
Meski demikian, Dul tetap membuka lapaknya setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 15.00 WIB. Ia optimistis usaha yang dibangun dari hobinya itu masih memiliki peluang berkembang selama dijalankan dengan tekun dan sabar.
"Harapannya semoga usaha ini ke depannya bisa maju. Yang penting kita tekuni aja," ujarnya.
Laporan Aditya Dwi Permana mahasiswa magang Ilmu Komunikasi UIN Raden Fatah Palembang
| Baca juga: Komunitas Batu Akik Tetap Eksis di Palembang |
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....