Mengenal The Bell Jar, Novel yang Mengangkat Isu Kesehatan Mental

  • 28 Jun 2026 17:15 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • The Bell Jar menjadi satu-satunya novel Sylvia Plath yang lahir dari pengalaman pribadinya menghadapi persoalan kesehatan mental.
  • The Bell Jar mengisahkan perjalanan Esther Greenwood saat menghadapi depresi di tengah tekanan sosial dan ekspektasi terhadap perempuan.
  • The Bell Jar tengah dipersiapkan untuk diadaptasi ke layar lebar, dengan Billie Eilish dikabarkan sedang dalam tahap negosiasi untuk memerankan Esther Greenwood.

RRI.CO.ID, Palembang - Pembahasan mengenai kesehatan mental kini semakin terbuka di berbagai kalangan. Tidak hanya melalui media sosial atau diskusi publik, tema tersebut juga banyak diangkat dalam karya sastra.

Salah satu novel yang mengangkat tema tersebut adalah The Bell Jar karya Sylvia Plath. Meski pertama kali diterbitkan pada 1963, novel ini masih terasa relevan dengan isu kesehatan mental yang banyak dibahas hingga saat ini.

Dilansir dari Poetry Foundation, The Bell Jar merupakan satu-satunya novel karya Sylvia Plath. Ia juga dikenal sebagai salah satu penyair Amerika paling berpengaruh pada abad ke-20.

Selain itu, novel ini juga terinspirasi dari pengalaman pribadi Sylvia Plath saat menghadapi masalah kesehatan mental di usia muda. Meski ditulis sebagai karya fiksi, The Bell Jar menghadirka gambaran yang dekat tentang pengalaman seseorang saat menghadapi depresi.

The Bell Jar berkisah tentang seorang perempuan muda cerdas bernama Esther Greenwood. Esther memulai kisahnya sebagai mahasiswa yang menjalani program magang di sebuah majalah ternama di New York.

Di tengah lingkungan yang dipenuhi berbagai peluang, Esther mulai mempertanyakan kemampuannya. Keraguan terhadap dirinya sendiri pun perlahan memengaruhi kondisi mentalnya.

Esther juga digambarkan sebagai sosok yang memiliki banyak impian. Namun, berbagai ekspektasi terhadap perempuan pada masa itu membuatnya merasa tidak benar-benar bebas menentukan jalan hidupnya.

Setelah masa magangnya berakhir dan ia kembali ke rumah, kondisi mental Esther semakin memburuk hingga mengalami depresi berat. Ibunya kemudian membwanya menjalani perawatan di beberapa fasilitas kesehatan mental.

Pada masa itu, pembahasan mengenai kesehatan mental masih sangat terbatas dan kerap dianggap tabu. Esther pun harus menjalani berbagai metode penanganan yang umum digunakan saat itu, termasuk terapi kejut listrik.

Di tengah proses pemulihannya, Esther terus berusaha menemukan jalan untuk bangkit dari kondisi yang dihadapinya. Novel ini ditutup dengan akhir yang terbuka dan memberikan ruang bagi pembaca untuk memaknai sendiri kisah Esther.

Dari segi gaya penulisan, novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama yang membuat emosi Esther terasa sangat dekat dengan pembaca. Banyak bagian dalam novel yang menggambarkan isi pikiran Esther dengan jujur, sehingga perasaan yang ingin disampaikan Sylvia Plath terasa sangat personal.

Hal serupa juga disampaikan oleh booktuber dari kanal YouTube Spinsters Library. Dalam salah satu video ulasannya, ia menilai Sylvia Plath berhasil membangun sudut pandang Esther dengan kuat sehingga pembaca seolah ikut merasakan setiap emosi yang dialami tokoh utama.

“You see everything through her eyes, and she likens depression to a bell jar, to being trapped inside a bell jar,” ujar Claudia. Menurutnya, metafora tersebut menggambarkan bagaimana depresi membuat seseorang merasa terisolasi dari dunia di sekitarnya.

Lebih dari enam dekade setelah diterbitkan, The Bell Jar masih menjadi salah satu karya sastra yang berpengaruh. Dilansir dari Deadline, novel ini kini tengah dipersiapkan untuk diadaptasi ke layar lebar dengan Billie Eilish yang dikabarkan sedang dalam tahap negosiasi untuk memerankan Esther Greenwood.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....