Selain Hiburan, Stand Up Comedy Jadi Ruang Curhat dan Kritik Sosial

  • 22 Jun 2026 06:35 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Stand Up Comedy tidak sekadar menjadi sarana hiburan yang menghadirkan tawa. Lebih dari itu, seni pertunjukan ini menjadi media untuk menyampaikan opini, kritik sosial, hingga melepaskan penat melalui pendekatan komedi yang ringan dan menghibur.

Komika Stand Up Indo Palembang, Fedro, menjelaskan bahwa istilah stand up comedy memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar tampil sambil berdiri di atas panggung.

"Stand up itu bukan hanya komedi sambil berdiri. Dalam maknanya, stand up juga berarti melawan. Awalnya seni ini lahir sebagai cara untuk melawan ketidaksesuaian atau menyampaikan protes, tetapi melalui komedi," ujarnya dalam obrolan komunitas, Sabtu, 6 Juni 2026.

Menurut Fedro, komedi menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pandangan atau kritik tanpa harus memicu perdebatan yang berlebihan. Dengan kemasan humor, pesan yang disampaikan cenderung lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Ia menuturkan, materi stand up comedy umumnya lahir dari berbagai ironi yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman yang awalnya terasa menyedihkan, menjengkelkan, atau memalukan dapat berubah menjadi bahan komedi setelah dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

"Hal-hal buruk, keresahan, kebingungan, atau kejadian aneh dalam hidup sering menjadi materi stand up. Karena pada dasarnya stand up mengajarkan kita untuk menertawakan ironi," katanya.

Fedro juga menilai stand up comedy dapat berfungsi sebagai sarana pelepas stres. Tidak semua orang yang mengikuti komunitas stand up bercita-cita menjadi komika profesional. Banyak yang datang hanya untuk menyalurkan keresahan dan berbagi pengalaman hidup melalui cerita lucu.

"Stand up itu bisa jadi karier, tapi bisa juga menjadi media stress release. Mirip seperti orang pergi ke tempat fitness. Tidak semua ingin jadi atlet, ada yang hanya ingin merasa lebih baik. Di stand up juga begitu," jelasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat yang memiliki banyak keresahan atau ingin menyalurkan unek-unek secara positif untuk mencoba bergabung dengan komunitas stand up comedy.

Selain membahas fungsi stand up comedy, Fedro juga menyoroti pentingnya tanggung jawab seorang komika terhadap materi yang dibawakan di atas panggung. Menurutnya, kebebasan berekspresi dalam komedi tetap harus diimbangi dengan kesadaran terhadap norma, etika, dan situasi tempat pertunjukan berlangsung.

"Apa yang kita sampaikan harus bisa dipertanggungjawabkan. Memang ada tema-tema yang risikonya tinggi, tetapi komika harus siap dengan konsekuensinya," ujarnya.

Ia menambahkan, komika harus mampu membaca audiens dan menyesuaikan materi dengan konteks acara. Materi yang dibawakan di sekolah, forum keagamaan, atau kegiatan korporasi tentu berbeda dengan pertunjukan di kafe atau panggung hiburan malam.

"Di Indonesia kita masih sangat memegang adab dan norma. Jadi komika harus pintar melihat situasi. Kalau tampil di sekolah atau acara keluarga tentu materinya berbeda dengan pertunjukan di tongkrongan malam," kata Fedro.

Meski demikian, ia mengakui bahwa stand up comedy tetap menjadi ruang yang memungkinkan seseorang mengekspresikan sisi manusiawi yang jarang ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Yang menarik dari stand up adalah kita bisa menunjukkan sisi manusia yang jujur, apa adanya, tetapi tetap dalam koridor yang bertanggung jawab dan sesuai tempatnya," ucapnya.

Melalui pendekatan tersebut, stand up comedy tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana refleksi sosial yang mengajak masyarakat melihat berbagai persoalan kehidupan dari sudut pandang yang lebih ringan dan penuh tawa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....