Pantomim Palembang Bertahan di tengah Gempuran Era Digital

  • 12 Mei 2026 21:01 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Seorang pemain pantomim berjalan pelan di atas panggung sambil menahan angin imajiner yang tak terlihat. Tanpa suara, gerakan tubuh dan ekspresi wajah mampu membuat penonton larut dalam cerita.

Di Palembang, seni pantomim ternyata memiliki perjalanan panjang sejak puluhan tahun lalu. Seni ini tumbuh bersama budaya anak muda dan terus bertahan hingga sekarang.

Penggiat pantomim Palembang, Sawal, menilai pantomim bukan sekadar hiburan semata. Menurutnya, seni tersebut menjadi media ekspresi yang mampu berbicara tanpa kata.

Perkembangan pantomim mulai terlihat pada akhir 1980-an ketika budaya breakdance sedang populer di kalangan remaja. Saat itu, Lapangan Hatta menjadi tempat berkumpul anak muda untuk menunjukkan kreativitas.

Ketika aktivitas di kawasan tersebut mulai dibatasi, komunitas seni mencari ruang baru untuk berekspresi. Dari situ, pantomim mulai berkembang luas di Palembang pada era 1990-an.

“Dulu banyak yang awalnya main breakdance, lalu pindah belajar pantomim. Dari situ mulai berkembang,” ujarnya. Pernyataan itu disampaikan usai menjadi juri FLS3N tingkat Kota Palembang, Senin, 12 Mei 2026.

Berbeda dengan seni pertunjukan lain, pantomim tidak mengandalkan dialog panjang dalam penyampaian cerita. Gerakan tubuh, mimik wajah, dan gestur tangan menjadi unsur utama pertunjukan.

Seni pantomim memiliki akar sejarah panjang dari Yunani kuno dan berkembang dalam dunia teater klasik. Pada masa itu, bahasa tubuh menjadi alat utama menyampaikan emosi kepada penonton.

Seiring perkembangan zaman, pantomim dikenal sebagai seni yang meniru kehidupan sehari-hari melalui gerakan. Berbagai cerita sosial dapat ditampilkan tanpa sepatah kata pun terucap.

Nama Septian Dwi Cahyo menjadi inspirasi bagi banyak pelaku pantomim di daerah. Karakter “tukang gunting bisu” di televisi membuat banyak anak mulai mengenal pantomim.

Seniman pantomim Yus Sudason atau Sonop mengenang perjalanan seni tersebut penuh keterbatasan pada masa lalu. Ia mulai mengenal pantomim sejak 1981 melalui pertunjukan ulang tahun dan hiburan sekolah.

Pada masa itu, perlengkapan rias wajah belum mudah ditemukan oleh para pemain pantomim. Mereka bahkan meracik sendiri make up sederhana menggunakan bahan seadanya.

“Dulu pakai sagu dicampur minyak kelapa atau minyak sayur,” katanya. Bahan tersebut digunakan agar riasan dapat menempel lebih lama di wajah.

Kini, pantomim mulai masuk ke lingkungan pendidikan melalui berbagai perlombaan seni. Di tengah era digital, seni tanpa suara itu tetap bertahan sebagai ruang ekspresi dan kreativitas generasi muda.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....