Literasi Jadi Kunci Debat Sehat Ala Prabu
- 10 Feb 2026 14:12 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Perdebatan publik kerap berubah menjadi ajang saling serang dan kehilangan substansi. Pakar komunikasi Prabu Revolusi mengajak masyarakat membangun debat sehat berbasis literasi.
Hal ini dibahas secara mendalam melalui video di kanal YouTube pribadinya yang berjudul Kapan Terakhir Kali Kita Debat Tanpa Marah? Ini Kuncinya. Prabu menyoroti maraknya perdebatan emosional di televisi dan media sosial.
Prabu menilai banyak orang lebih sibuk menyerang pribadi daripada menguji gagasan secara rasional. Ia mengingatkan bahwa ruang diskusi seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran, bukan melampiaskan kemarahan.
Ia menegaskan bahwa kritik tidak identik dengan emosi atau kegaduhan. Ia mengajak publik menyampaikan pendapat secara sadar, terukur, dan berlandaskan literasi.
“Kritik itu bukan tentang marah. Saya tidak sedang mengajak kita semua untuk menambah gaduh, melainkan mengajak belajar membangun argumentasi dengan sadar dan berlandaskan literasi,” ujar Prabu.
Dalam pemaparannya, ia menjelaskan tiga pendekatan berpikir untuk mencari kebenaran, yakni positivis, konstruktivis, dan kritis. Ia menyebut ketiganya sebagai dasar memahami perbedaan secara bijak.
Pendekatan positivis menekankan bukti yang terukur, teruji, dan terverifikasi sehingga masyarakat mengandalkan data saat menghadapi informasi palsu. Ia mengingatkan bahwa angka tetap perlu dilengkapi nilai kemanusiaan karena empati tidak selalu dapat dihitung.
Ia kemudian memaparkan pendekatan konstruktivis yang memandang kebenaran dibentuk pengalaman serta latar budaya setiap individu. Pendekatan ini membuka ruang dialog yang lebih empatik karena setiap orang memiliki perjalanan hidup berbeda.
Prabu juga menegaskan bahwa pola berpikir kritis bukan sikap emosional atau kebiasaan memaki. Ia menjelaskan bahwa sikap kritis merupakan metodologi untuk menguji asumsi dan menelusuri kepentingan di balik sebuah narasi.
“Kritis itu adalah metodologi kajian pengetahuan untuk mencari kebenaran. Bukan tentang marah-marahnya, bukan tentang maki-makinya baru kita disebut kritis,”jelas Prabu.
Ia berharap masyarakat mampu memadukan ketiga pendekatan tersebut secara seimbang dalam setiap diskusi. Ia menekankan bahwa tujuan berdebat adalah memperdalam pemahaman bersama, bukan memenangkan pertengkaran.
“Berargumen bukan untuk menang, tapi untuk memahami lebih dalam. Cari datanya, pahami perspektifnya dan selidiki kepentingannya,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....