Catat! Tujuh Prosedur Touring agar Aman Selama Perjalanan

  • 26 Nov 2025 15:24 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Touring sepeda motor masih menjadi salah satu aktivitas favorit komunitas roda dua di Sumatera Selatan. Selain menjadi ajang eksplorasi rute dan menikmati pemandangan alam, touring juga menjadi ruang berkumpul dan mempererat solidaritas antaranggota. Namun di balik keseruannya, kegiatan ini tetap memiliki risiko yang perlu diantisipasi dengan teknik berkendara yang tepat.

Menjawab kebutuhan itu, Astra Motor Sumatera Selatan kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan saat touring. Melalui tim Safety Riding, mereka merangkum tujuh prosedur teknis yang bisa menjadi panduan wajib bagi komunitas motor dalam menjaga keamanan dan efisiensi perjalanan.

Prosedur pertama yang dianggap krusial adalah briefing teknis sebelum start. Dalam sesi ini, seluruh peserta menyamakan persepsi mengenai rute, titik istirahat, sistem komunikasi, hingga formasi perjalanan. Tanpa briefing, potensi kesalahpahaman di jalan dapat meningkat dan memicu manuver berbahaya.

Selanjutnya, tim merekomendasikan penggunaan formasi zig-zag atau staggered. Formasi ini memberi ruang antar-pengendara, memperluas jarak pandang, serta membuat respon terhadap kondisi jalan lebih optimal. Peran Road Captain (RC) dan sweeper juga ditekankan sebagai elemen penting dalam menjaga ritme rombongan.

Astra Motor Sumsel juga menyoroti perlunya safety gear standar, termasuk helm bersertifikat, jaket pelindung, sarung tangan, sepatu tertutup, dan jas hujan. Perlengkapan ini bukan hanya menjadi identitas touring, tetapi juga lapisan pertahanan utama saat terjadi insiden atau perubahan cuaca.

Dari sisi teknis berkendara, peserta diwajibkan menjaga kecepatan stabil dan jarak aman. Overtaking di dalam barisan tidak diperbolehkan karena bisa menyebabkan kekacauan formasi. Disiplin ini dianggap penting untuk menjaga kelancaran dan keselamatan seluruh peserta.

Prosedur lainnya adalah interval istirahat setiap 1–1,5 jam. Selain memulihkan stamina, jeda ini menjadi momen untuk melakukan pengecekan ringan terhadap kondisi motor. Pemeriksaan ban, suhu mesin, sistem pengereman, dan bahan bakar dinilai dapat mencegah gangguan teknis di tengah perjalanan.

Sementara itu, komunikasi visual menggunakan hand signal menjadi poin yang tak bisa diabaikan. Mengingat komunikasi verbal sulit dilakukan saat berkendara, pemahaman sinyal standar membantu seluruh anggota rombongan membaca situasi dengan cepat.

Terakhir, tim merekomendasikan agar peserta selalu membawa perlakuan tambahan untuk kondisi darurat, seperti toolkit dasar, P3K, powerbank, hingga kontak darurat. Perlengkapan ini terbukti membantu menangani berbagai situasi tidak terduga.

Safety Riding & Community Supervisor Astra Motor Sumsel, Fathan Nayoda, menegaskan bahwa touring tidak sekadar soal hobi, tetapi juga tanggung jawab di jalan. “Dengan memahami teknik berkendara yang benar, touring dapat menjadi kegiatan yang aman sekaligus menyenangkan,” kata Fathan Nayoda.

Dengan penerapan rangkaian panduan tersebut, komunitas motor diharapkan semakin disiplin dalam menjaga keselamatan selama perjalanan. Teknik touring yang tepat diyakini dapat menciptakan pengalaman berkendara yang lebih tertib, nyaman, dan berkesan bagi setiap peserta.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....