Puisi, Cara Cerdas Bangkitkan Semangat Patriotisme Generasi Muda

  • 12 Nov 2025 06:29 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Suasana Studio Pro 1 RRI Palembang pada Senin (10/11/2025) sore itu terasa berbeda. Bukan sekadar perbincangan biasa, tetapi ruang inspirasi yang memadukan seni dan semangat kebangsaan. Dalam acara Obrolan Komunitas Sanggar Sastra, sejumlah penyair dan akademisi sepakat: patriotisme bisa dibangkitkan dengan cara yang indah dan cerdas—melalui puisi.

“Melalui puisi bertemakan patriotisme, kaum muda bisa belajar mencintai tanah air dengan cara yang lebih mendalam, tidak hanya kognitif, tapi juga dari jiwa,” ujar Yulian Junaidi atau yang akrab disapa JJ Polong, Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya sekaligus deklamator Sanggar Sastra, saat menjadi narasumber acara tersebut.

Redaktur Sanggar Sastra, Rita Sumarni, menegaskan, pentingnya menjadikan puisi sebagai medium pembelajaran karakter bangsa. Menurutnya, sastra adalah ruang yang lentur untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme, terutama di tengah derasnya arus digitalisasi.

“Puisi bertema patriotisme bisa membangkitkan semangat kaum muda agar tidak luntur oleh perkembangan teknologi,” tegas Rita.

Dalam acara itu, Rita membuka sesi deklamasi dengan puisi “Indonesia Pusaka” karya Anto Narasoma, yang mengangkat makna perjuangan di masa pandemi Covid-19. Baginya, pahlawan tidak hanya mereka yang berjuang di medan perang, tapi juga mereka yang bertahan hidup di tengah ancaman virus.

Sementara itu, Maulan Irwadi, Dosen Bidang Kemahasiswaan Universitas Syakyakirti, turut membacakan puisi “Doa Seorang Serdadu” karya WS Rendra, yang menggambarkan heroisme dan konflik batin seorang pejuang di tengah medan perang.

“Puisi ini mengajarkan kita tentang keberanian mempertahankan bangsa, bahkan ketika harus berhadapan langsung dengan maut,” ujar Maulan, yang juga dikenal sebagai deklamator Sanggar Sastra.

Tak kalah menggetarkan, JJ Polong membacakan karyanya sendiri berjudul “Parameswara”, mengangkat sosok pahlawan asal Sumatera Selatan yang dikenal hingga mancanegara. Melalui puisi itu, ia berusaha menghubungkan jejak sejarah lokal dengan kebanggaan nasional.

Rita Sumarni menambahkan, semangat patriotisme bisa dikemas lebih kreatif agar dekat dengan generasi muda. “Anak muda bisa diajak mengenal pahlawan seperti Sultan Mahmud Badarudin II melalui event kreatif, lomba, atau drama bertema lokal. Dengan kemasan menarik, mereka akan lebih peduli terhadap sejarah bangsanya,” ujarnya.

JJ Polong menilai, kemajuan teknologi justru dapat menjadi jembatan untuk memperluas jangkauan karya sastra. “Puisi tak hanya dibacakan di panggung. Sekarang bisa dikemas dalam video, konten media sosial, bahkan kolaborasi seni digital. Patriotisme bisa tampil modern tanpa kehilangan makna,” katanya.

Menutup acara, Rita berpesan agar generasi muda tidak berhenti pada romantisme perjuangan, tapi juga berkontribusi nyata di bidang masing-masing. “Mengisi kemerdekaan bisa dilakukan lewat profesi apapun—yang penting bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya penuh semangat.

Maulan pun menambahkan, sastra tetap relevan untuk membentuk karakter bangsa. “Dengan puisi, kita bisa mengungkapkan, menuliskan, sekaligus menanamkan semangat patriotisme di hati generasi muda,” tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....