Kilau Ungu Kecubung, Pesona Abadi Para Kolektor

  • 26 Mei 2025 12:58 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Bagi sebagian orang, batu mulia tak hanya sekadar perhiasan, melainkan juga bagian dari perjalanan sejarah dan keindahan alam. Di antara gemerlapnya berbagai jenis batu, kecubung atau amethyst muncul sebagai primadona yang tak lekang oleh waktu, memikat hati para kolektor dan pencinta keindahan.

Yanuar, seorang kolektor batu mulia di Palembang, memiliki sederet koleksi batu amethyst.

"Sebenarnya dari yang saya tahu batu amethyst adalah batu semi mulia yang sering digunakan dalam perhiasan. Untuk di Indonesia ada jenis kecubung," ungkap Yanuar, Senin (26/5/2025).

Menurut Yanuar, batu ini adalah varietas kuarsa ungu cemerlang yang mudah dikenali. Pesona ungu pada batu amethyst memiliki beragam variasi, mulai dari ungu muda hingga ungu tua, dengan kilau indah yang memukau. Tak heran jika warna ini banyak disukai para pencinta dan kolektor batu.

Lebih dari sekadar keindahannya, batu amethyst juga diselimuti oleh berbagai kepercayaan.

"Adanya kepercayaan bahwa batu ini akan melindungi pemakainya agar tidak mabuk berat atau dapat membawa percaya diri pemakai, selain keindahan yang warna ungu yang berkilau,” jelasnya.

Mitos ini menambah daya tarik tersendiri bagi para pemiliknya, menjadikan amethyst bukan hanya sekadar ornamen, tetapi juga simbol keberuntungan dan perlindungan.

Meskipun termasuk dalam keluarga kuarsa dengan tingkat kekerasan 7 pada skala Mohs membuat amethyst cukup tahan terhadap goresan dan kerusakan sehari-hari, Yanuar tetap menyarankan perawatan yang hati-hati. Kristal amethyst seringkali terbentuk dalam kluster atau kelompok yang tumbuh di dalam rongga batuan vulkanik, menjadikannya unik dan rapuh di waktu bersamaan.

"Cara merawat kristal Amethyst, simpan setiap perhiasan secara terpisah dalam kain lembut atau wadah berlapis," tutur Yanuar.

Ia juga menekankan untuk menjaga pemakaiannya sehari-hari.

"Kalau pun dipakai atau dibawa ke mana-mana untuk menjaga dengan hati, karena batu ini adalah batu kuarsa walau kekerasannya tingkat tujuh pada skala Mohs," tambahnya.

Amethyst memiliki struktur kristal heksagonal dengan bentuk yang beragam, dari prisma ramping hingga agregat masif. Beberapa di antaranya bahkan menunjukkan fenomena fluoresensi di bawah sinar ultraviolet, menampilkan warna merah atau ungu kemerahan, meski tidak selalu terlihat pada semua jenis amethyst. Keunikan inilah yang membuat amethyst terus dicari dan dihargai, bukan hanya karena keindahan visualnya, tetapi juga cerita dan misteri yang menyertainya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....