Bukan Sekadar Drama Religi, Film 'Ibadah dan Cinta' Bedah Realitas Sosial Anak Muda
- 21 Sep 2026 08:30 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Film Ibadah dan Cinta menggelar pemutaran spesial di Palembang sebagai kota pembuka rangkaian promosi di Pulau Sumatera sebelum tayang serentak nasional.
- Film ini mengeksplorasi narasi kompleks tentang relasi keluarga dan dinamika antar-generasi melalui dua latar belakang kontras: kehidupan pesantren tradisional Indonesia dan kehidupan anak muda di Melbourne, Australia.
- Pemutaran khusus ini mendahului jadwal tayang resmi di seluruh bioskop Indonesia yang ditargetkan pada 24 September 2026 dengan fokus pada konflik perspektif orang tua dan pilihan independen anak.
RRI.CO.ID, Palembang - Industri perfilman tanah air kembali menghadirkan narasi drama yang membedah kompleksitas relasi keluarga dan dinamika antar-generasi. Film terbaru bertajuk Ibadah dan Cinta resmi menggelar pemutaran spesial nonton duluan di Palembang, yang menjadi kota pembuka untuk rangkaian promosi di wilayah Pulau Sumatera.
Sesi pemutaran khusus ini digelar mendahului jadwal tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia yang ditargetkan meluncur pada 24 September 2026. Mengambil dua latar belakang cerita yang kontras antara kehidupan pesantren tradisional di Indonesia dan dinamika anak muda di Melbourne, Australia, film ini memotret bagaimana sudut pandang orang tua dan pilihan independen anak sering kali saling berbenturan.
Produser film Ibadah dan Cinta, Arismuda Irawan, menegaskan bahwa spirit utama yang diusung dalam karya ini merangkum tiga fase krusial dalam perjalanan setiap manusia.
"Semangat yang muncul dari film ini adalah tentang hidup itu: jatuh cinta, kehilangan, dan keikhlasan. Spirit itulah yang harus bisa ditangkap atau disampaikan kepada penonton. Semua orang pasti mengalami kehilangan dan bagaimana mengikhlaskan," ungkap Arismuda.
Arismuda menambahkan, pola pemikiran paternalistik seperti dominasi otoritas tokoh orang tua dalam menentukan arah hidup dan jodoh anak menjadi cermin realitas sosial yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat.

Eksplorasi Karakter dan Tantangan Peran
Sisi menarik lain dari produksi ini terletak pada jajaran pemeran utamanya. Aktris Berlliana Lovell dipercaya memerankan tokoh Nisa, seorang perempuan muda berkarakter ekspresif (cegil) yang harus tetap menjaga keanggunan serta batasan etika di lingkungan pesantren. Berlliana mengakui bahwa menjaga keseimbangan karakter tersebut menjadi tantangan tersendiri.
"Nisa ini sebenarnya cegil versi syari. Tapi menurut aku tantangan sendiri, gimana caranya Nisa ini tetap jadi cegil tapi tetap elegan karena dia harus pakai kerudung. Itu tuh yang lumayan tricky," tutur Berlliana.
Ia juga menambahkan bahwa pesan moral dalam film ini sangat dalam dan tidak sekadar menghibur penonton. "Film ini bagus banget dan makna kehidupannya banyak banget yang bisa diambil. Jadi enggak cuman keluar studio itu ketawa, tapi akhirnya jadi bisa introspeksi diri sama hidup," tambahnya.

Sementara itu, aktor Stevan Rizky membawakan karakter Ustaz Salman, sosok yang tenang dan soft-spoken dalam merespons berbagai gejolak emosi.
"Salman ini soft spoken. Walaupun dalam emosi pun, di beberapa adegan dia tetap jaga cara bicara dia dan cara bersikap dia," jelas Stevan.
Demi menampilkan gestur dan pembawaan yang presisi serta meyakinkan, Stefan bahkan melakukan riset dan observasi langsung ke lingkungan majelis di dekat tempat tinggalnya. "Aku observasi dan tanya sama tetangga yang kebetulan salah satu orang majelis di masjid. Hampir semingguan pelajarin karakternya," ungkap Stevan.
Melalui kedalaman cerita, riset peran yang matang, serta dinamika karakter yang dihadirkan, tim produksi berharap Ibadah dan Cinta tidak hanya berfungsi sebagai tontonan hiburan, tetapi juga menghadirkan ruang refleksi bagi penonton dalam menyikapi hubungan keluarga serta arti keikhlasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....