Jejak Panjang Huruf Braille hingga Dikenal di Seluruh Dunia
- 17 Feb 2026 12:21 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Huruf braille yang kita kenal hari ini lahir dari perjuangan panjang manusia memahami cara membaca tanpa melihat. Sistem titik timbul ini menjadi simbol akses pendidikan yang mengubah hidup jutaan orang.
Pada awal abad ke-19, akses membaca bagi tunanetra masih sangat terbatas dan tidak praktis. Buku bertulisan timbul berukuran besar dan sulit digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Perpustakaan Kongres Amerika Serikat melalui situs resminya, sistem braille dikembangkan oleh Louis Braille di Prancis. Sistem ini menggunakan enam titik timbul yang dapat diraba untuk mewakili huruf, angka, dan simbol baca.
Awalnya, sistem tersebut belum langsung diterima secara luas oleh masyarakat. Bahkan menurut catatan perpustakaan nasional Amerika Serikat itu, braille baru diakui sebagai sistem resmi membaca tunanetra di Prancis pada tahun 1854.
Perkembangannya kemudian meluas secara global ketika komunitas internasional mengakui manfaat sistem tersebut. Braille menjadi standar dunia bagi pendidikan dan komunikasi penyandang disabilitas penglihatan.
Menurut organisasi pendidikan dunia UNESCO melalui laman resminya, braille adalah sistem baca tulis sentuh yang memberi kemandirian bagi tunanetra. Sistem ini memungkinkan akses informasi tanpa bergantung pada orang lain atau media suara.
Seiring perkembangan teknologi, braille tetap bertahan meskipun buku audio dan perangkat digital semakin populer. Sistem ini terus digunakan dalam buku, papan informasi publik, hingga perangkat elektronik modern.
Dari kisah seorang anak yang kehilangan penglihatan hingga menjadi bahasa sentuh dunia, braille adalah bukti bahwa keterbatasan bisa melahirkan inovasi besar. Ia bukan sekadar rangkaian titik, melainkan jembatan menuju pengetahuan yang setara bagi semua orang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....