Cerita Dibalik Proses Pembuatan Film Dokumenter Tari Siwar
- 26 Des 2025 09:45 WIB
- Palembang
KBRN, Lahat: Pembuatan film dokumenter Tari Siwar: Irama Perlawanan dari Tanah Tanjung Sakti menghadirkan kembali jejak sejarah dan makna mendalam dari Tari Siwar, sebuah tari yang merepresentasikan perlawanan perempuan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatera Selatan.
Produser film, Nara Shakti Salsabila, menjelaskan alasan memilih Tari Siwar sebagai fokus dokumenter ini. Inspirasi dan data awal yang didapatnya dari memori dan cerita singkat sang nenek.
“Tari Siwar ini adalah cerita yang pertama kali saya dengar dari nenek ketika masih kecil. Selain itu, tari ini belum begitu dikenal masyarakat Lahat, tidak seperti Tari Erai-erai,” ujarnya dalam obrolan dengan RRI Palembang, Kamis (25/12/2025).
Proses produksi diawali dengan riset mendalam mengenai asal-usul, makna, dan fungsi Tari Siwar, sekaligus menentukan narasumber yang tepat untuk diwawancarai. Tim kemudian melakukan perjalanan dari Palembang ke Lahat selama lima hari untuk melakukan pengambilan gambar. Salah satu lokasi utama adalah Curup Gunung Senyawe, yang dipilih sebagai tempat adegan penari menampilkan Tari Siwar.
“Dalam prosesnya, tim produksi bersama penari dan pemusik harus berjalan kaki sekitar 30 menit melewati perbukitan sambil membawa berbagai atribut dan perlengkapan. Tantangan tersebut terbayar dengan keindahan panorama Curup Senyawe yang juga diharapkan dapat memperkenalkan potensi pariwisata daerah,” jelas Nara.
Selama pengambilan gambar, beberapa kejadian unik turut mewarnai proses, seperti kamera dan atribut tari yang sempat tercebur ke sungai yang licin. Selain itu, tim menemukan sejumlah fakta baru terkait perkembangan Tari Siwar, yang kemudian diolah dan dimasukkan ke dalam film.
Tari Siwar dikenal sebagai tarian yang unik karena penggunaan properti siwar—sebuah senjata tajam berbentuk pisau kecil sepanjang sekilan tunjuk yang pada masa lalu dipercaya sangat berbisa dan mematikan. Dalam penampilannya, siwar diseimbangkan di jari penari dan diarahkan ke titik-titik tertentu pada tubuh. Untuk menghindari cedera, penari harus mengikuti sejumlah syarat dan ritual khusus sebelum menarikan tarian ini.
Sutradara film, Rillo, menegaskan bahwa dokumenter ini dibuat dengan pendekatan yang jujur dan apa adanya.
“Apa yang kami sampaikan di film ini adalah sebagaimana adanya. Kami serahkan kepada penonton untuk menginterpretasikan pesan yang kami bawa. Kami mencintai budaya lokal dan berharap film dokumenter ini dapat turut menjaga kelestarian kebudayaan kita,” ujarnya.
Setelah proses produksi selesai, film masuk ke tahap penyuntingan dan kemudian melalui FGD (Focus Group Discussion) untuk mendapatkan masukan, kritik, dan tindak lanjut. FGD menghadirkan perwakilan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, praktisi tari, praktisi film, jurnalis, serta Dewan Kesenian Sumatera Selatan.
Film dokumenter Tari Siwar akhirnya diselesaikan sebagai sebuah karya yang tidak hanya menampilkan keindahan gerak, tetapi juga menggambarkan perjalanan sebuah tradisi untuk tetap hidup. Film ini berdiri di atas riset yang kuat dan komitmen untuk memperkenalkan kekayaan budaya Sumatera Selatan kepada publik luas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....