Infrastruktur Kendala Pengembangan Panas Bumi Sumsel
- 23 Mar 2024 02:45 WIB
- Palembang
Perjalanan yang Melelahkan
KBRN, Palembang: Tubuh ikut bergoyang, padahal tidak ada alunan musik didalam kendaraan. Goyangan itu semakin kuat ketika mobil yang ditumpangi melewati jalan berlubang secara beruntun. Kecepatan mobil pun harus pelan, apalagi beberapa titik jalan bersebelahan dengan jurang.
Untungnya perjalanan menuju lokasi potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) Panas Bumi yang tereletak di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim memikat mata. Pemandangan indah dengan pegunungan dan keanekaragam penduduk desa, membuat tujuh penumpang di dalam mobil itu terlupa kondisi jalan yang dilalui.
Meskipun pemandangan memikat mata, namun tidak dipungkiri, raut wajah pucat dan lelah tetap terlihat dari penumpang saat tiba di Kawasan Pertamina Geothermal Energy (PGE) Lumut Balai. Perusahaan berplat merah itu mengelolah EBT panas bumi menjadi energi listrik dengan membangun Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).
Penumpang yang lelah itu merupakan bagian dari Tim Jelajah Energi Sumsel yang rela menempuh lebih kurang empat perjalanan dengan jarak 100 Kilometer (Km) dari pusat Kota Muara Enim untuk tiba di PLTP Lumut Balai. Tim beranggotakan 20 peserta disambut dengan prosedur keamanan dan keselamatan terlebih dahulu, mulai dari pemeriksaan kendaraan juga pemeriksaan kesehatan.
Terdapat tiga kendaraan yang membawa 20 peserta pada Kamis (29/3/24) yang terdiri dari, perwakilan Institute Essential Services Reform (IESR), jurnalis, media, penulis, dan pemerintah. Tujuannya untuk mengetahui dan melihat secara langsung praktik baik, inisiatif maupun inovasi pemanfaatan EBT di Sumsel di berbagai sektor.
Anggota Tim Jelajah Energi Sumsel, Isfi, seorang penulis menceritakan perjalanan jauh yang sangat melelahkan ini sebenarnya tidak sanggup ia lalui. Namun karena keinginan melihat PLTP, Isfi pun menikmati perjalanan dan takjub dengan panas bumi yang ada di Sumsel.
“Kondisi jalan berlubang dan juga banyak bebatuan, membuat tubuh saya di dałam mobil bergoyoang kepala pusing. Tapi ketika sampai, luar biasa ternyata seperti ini lokasi pemanfaatan panas bumi,” sambung Isfi, saat tiba sembari berjalan menuju gedung pertemuan dengan PGE Lumut Balai
Sama hanya dituturkan Azimi, Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Sriwijaya (Unsri) sempat terjatuh dảri kursi mobil akibat guncangan yang kuat, ditambah pacu kendaraan membuatnya mabuk perjalanan. Namun keginan untuk terlibat dalam tim ini diakui Azimi, ingin mengtahui besaran energi panas bumi untuk dapat dimamfaatkan menjadi energi listrik termasuk bagaimana prosesnya.
“Sebagai mahasiswa tentunya ingin belajar banyak tentang transkei energi, meskipun perjalanan menuju lokasi sangat jauh dan bikin mual,” ungkapnya.

Kondisi jalan menuju PLTP Lumut Balai
Tim Disambut Pertamina Geothermal Energy
Cuaca sejuk mengiringi tim menuju ruang pertemuan yang di sambut Pejabat sementara (Pjs) General Manager PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lumut Balai, Aris Kurniawan béserta jajaran.
Dalam pemaparannya Aris menjelaskan T Pertamina Geothermal Energy (PGE) terus memperkuat komitmennya dalam menyediakan akses energi bersih, andal, dan terjangkau untuk seluruh masyarakat Indonesia. Melalui berbagai proyek strategis, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai di Sumsel.
“Sejak beroperasi pada tahun 2019, PLTP Lumut Balai Unit 1 telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pasokan energi listrik di wilayah provinsi ini,” sambungnya.
Aris menyebut dengan kapasitas terpasang sebesar 55 Megawatt (MW), PLTP Lumut Balai Unit 1 mampu menyuplai listrik untuk kebutuhan sekitar 55.000 rumah di sekitar wilayah kerja PGE. "Melalui operasionalnya, PLTP Lumut Balai Unit 1 telah membawa manfaat nyata bagi masyarakat dengan menyediakan akses energi yang andal dan terjangkau," sebutnya.
Selain kontribusinya yang sudah terbukti, PGE juga telah melakukan groundbreaking untuk PLTP Lumut Balai Unit 2 pada bulan Desember tahun lalu. Dengan proyek ini, PGE akan menambah kapasitas terpasang sebesar 55 MW lagi sehingga total kapasitas terpasang sebesar 110MW, yang diproyeksikan setara dengan listrik untuk 110.000 rumah.
“Hal ini menunjukkan komitmen PGE dalam terus mengembangkan infrastruktur energi bersih untuk mendukung kebutuhan masyarakat Indonesia,” jelasnya.
Berdasarkan potensi yang teridentifikasi pada situs PGE, Wilayah Kerja Pengusahaan Panas Bumi (WKP) Lumut Balai dan Margabayur memiliki potensi panas bumi lebih dari 300 MWe. Dengan potensi ini, PGE melihat prospek yang cerah dalam pengembangan dan ekspansi PLTP ke depannya.
“PLTP Lumut Balai merupakan salah satu proyek fokus utama pengembangan PGE saat ini. Proyek ini diharapkan dapat menambah kapasitas terpasang panas bumi sebesar 55 MW, dengan target beroperasi pada akhir 2024,” tegasnya.
Melalui strategi quick wins yang memanfaatkan teknologi binary, PGE berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi panas bumi sebagai langkah konkret menuju Net Zero Emission 2060. PLTP Lumut Balai juga berperan dalam mengurangi emisi karbon.
Diperkirakan, proyek Lumut Balai Unit 2 akan mengurangi emisi sebesar 581.784 tCO2eq/tahun melalui pengurangan Hydrogen sulfide (H2S) dan pencairan CO2 serta berpotensi menghasilkan green hydrogen melalui elektrolisis air untuk green methanol. “Ini sejalan dengan komitmen PGE dalam mendukung Indonesia mencapai target 23% dari national grid mix sumber energi terbarukan di tahun 2025 dan menuju Net Zero Emission 2060,” rinci Aris dihadapan Tim Jelajah Energi Sumsel, Kamis (29/2/24).

Pejabat sementara (Pjs) General Manager PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lumut Balai, Aris Kurniawan.
Fasilitas Jalan Menjadi Kendala Pemanfaatan Panas Bumi
Kepala Seksi Konservasi Dinas Eenergi Sumber Daya Minerał (ESDM) Sumsel, Ira Prihatini mengatakan EBT panas bumi merupakan wewenang pemerintah pusat, pemerintah daerah sifatnya mendorong pengembangan potensi panas bumi di provini ini. “Kita siap bekerja sama untuk mendorong dan juga berkerjasama dengan masyarakat,” kata Ira yang juga bagian dari Tim Jelajah Energi Sumsel.
Ira mengakui sejauh ini kendala dalam pengembangan panas bumi adalah lokasi yang jauh karena belum memiliki fasilitas jalan menuju potensi itu. “Jadi investor bisa double investasi, untuk proyek dan juga buka akses jalan masuk lokasi panas bumi,” ungkap Ira, untuk kedua kalinya ke lokasi PLTP Lumut Balai.
Seperti menuju Lumut Balai ini, awalnya untuk potensi panas bumi tidak ada jalan, namun setelah ada proyek panas bumi yang dikelolah PGE baru di buka jalan. Bahkan jalan masyarakat di sekitar PLTP ikut terbantu. “Jalan yang dimiliki masyarakat hanya sampai Desa Peninindai, namun sekarang sudah dibuka jalan, " kata Ira
Dibandingkan 2010, Ira mengungkapkan kondisi jalan sudah lebih baik, meskipun saat ini masih berlubang. " Saat 2010 jalan saat itu sangat tanah sekali tapi kini sudah lebih baik walau masih banyak berlubang,” katanya.
Dari data Dinas ESDM Provinsi Sumsel 2023, provinsi ini memiliki potensi EBT sebesar 21.032 MW dengan kapasitas energi yang sudah dihasilkan 989,12 MW atau sekitar 4,7 persen. Dari potensi itu, panas bumi (geothermal) yang ada di Sumsel mencapai 918 MW, namun baru terpasang 146 MW yang berada di WKP Lumut Balai dan Rantau Dedap yang berkapasitas 9I MW yang.
Ira menyebut selain Lumut Balai dan Rantau Dedap, potensi Panas Bumi lainnya yang dimiliki Sumsel ada di Wilayah Kerja Panas (WKP) Ranau. "Untuk Panas Bumi di Ranau, sejauh ini masih dalam tahap ekplorasi belum ada perkembangan lagi. Untuk pengembangan yang dilakukan PT PLN," jelasnya

Infografik EBT Data Dinas ESDM Sumsel
Dorong Transisi Energi
IESR menilai diantara wilayah kerja panas bumi (WKP) yang ditetapkan pemerintah, WKP Lumut Balai merupakan salah satu unggulan karena memiliki potensi panas bumi mencapai lebih dari 300 MW. “Dimana 55 MW telah beroperasi sejak 2019 dan unit lainnya sedang dibangun dan akan rampung pada Desember 2024,” ungkap Faricha Hidayati, Proyek Dekarbonisasi Industri, IESR.
Faricha menyebut apabila potensi panas bumi ini dimanfaatkan secara baik, Indonesia akan mampu memiliki 23.7 GW energi bersih dan mencapai emisi nol bersih pada 2060, atau lebih cepat. “Sayangnya, tak banyak masyarakat yang mengetahui potensi yang berlimpah ini,” tuturnya.
Menurut Faricha justru masih banyak yang memilih energi dari bahan bakar fosil. Maka dari itu, IESR bekerja sama dengan Dinas ESDM Sumatera Selatan mengadakan Jelajah Energi ini untuk menyebarkan luaskan informasi ini kepada masyarakat. “Sehingga diharapkan, masyarakat Indonesia menjadi lebih bijak dalam menggunakan energi listrik dan sejenisnya, dan kemudian bisa bersama-sama mengawal kebijakan pemerintah dalam mendorong transisi energi Indonesia menjadi lebih hijau dan berkelanjutan,” pungkas Faricha

Tim Jelajah Energi Sumsel bersama Pertamina Geothermal Energi
Tentang Institute for Essential Services Reform
Institute for Essential Service Reform (IESR) adalah organisasi think tank yang secara aktif mempromosikan dan memperjuangkan pemenuhan kebutuhan energi Indonesia, dengan menjunjung tinggi prinsip keadilan dalam pemanfaatan sumber daya alam dan kelestarian ekologis. IESR terlibat dalam kegiatan seperti melakukan analisis dan penelitian, mengadvokasi kebijakan publik, meluncurkan kampanye tentang topik tertentu, dan berkolaborasi dengan berbagai organisasi dan institusi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....