Rhompal, Sang Penggemar Fanatik Rhoma Irama dengan Tampilan Totalitas
- 17 Mar 2026 20:38 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Di sudut panggung-panggung hiburan Kota Palembang, sosok Sangkurlalana atau lebih dikenal dengan nama Sangkurlana tampil dengan gaya yang tak asing. Rambut, busana, hingga gestur panggungnya mengingatkan publik pada sang Raja Dangdut, Rhoma Irama.
Namun di balik kemiripan itu, ada perjalanan panjang seorang penggemar yang menjelma menjadi “Rompal” dengan penampil dengan gaya khas idolanya. Rompal adalah singkatan Rhoma Palsu atau Rhoma Palembang.
“Alhamdulillah, pakaian yang saya pakai ini asli dari Bang Rhoma Irama,” ujarnya dengan nada bangga ketika berbincang dengan RRI, Senin, 16 Maret 2026.
Ia mengaku memiliki empat set kostum yang didapat melalui tim sang legenda. Bagi dirinya, itu bukan sekadar pakaian panggung, melainkan simbol kedekatan emosional dengan sosok yang ia kagumi sejak lama.
Tak hanya kostum, ia juga menyimpan gitar bertanda tangan asli Rhoma Irama yang didapat pada tahun 2020. Kisah di balik gitar itu menjadi momen yang tak terlupakan.
Ia rela begadang sejak dini hari demi mendapatkan tanda tangan tersebut. Bahkan, di masa awalnya, keterbatasan ekonomi membuatnya harus berkreasi dengan bahan seadanya.
“Dulu atribut belum lengkap. Saya pakai gordeng, bahkan jilbab istri untuk melengkapi penampilan,” kenangnya sambil tertawa kecil. Dari kondisi sederhana itulah, karakter “Rhoma” versinya mulai terbentuk.
Meski tak sepenuhnya mahir bermain gitar seperti idolanya, ia menekankan bahwa yang terpenting adalah “rasa” dan gaya. “Tidak harus bisa seperti aslinya, tapi punya ciri khas. Gaya itu penting,” katanya.
Perjalanan sebagai rompal membawa perubahan signifikan dalam hidup Sangkurlana. Jika dulu ia harus menjalani jadwal padat sebagai vokalis biasa—berangkat sore, cek sound malam, tampil hingga keesokan hari—kini ia lebih sering tampil sebagai bintang tamu. Cukup membawakan dua atau tiga lagu, lalu kembali pulang.
“Capeknya dulu luar biasa. Sekarang alhamdulillah lebih ringan, bahkan kadang dijemput,” ujarnya. Selain perubahan ritme kerja, ia juga merasakan peningkatan dari sisi ekonomi, meski belum sepenuhnya stabil.
Di tengah popularitas yang perlahan tumbuh, ia tetap menyimpan harapan besar. Ia ingin lebih banyak anak muda Palembang tertarik mengikuti jejaknya, khususnya dalam melestarikan gaya dangdut klasik ala Rhoma Irama.
Ia juga aktif di Kerukunan Keluarga Pedangdut Palembang (KKPP) dan Fans Rohma And Soneta (Forsa), yang menurutnya menjadi wadah penting dalam membuka peluang tampil. Dari komunitas itulah, panggung demi panggung mulai ia jajaki.
Namun, ia tak menampik adanya perbedaan peluang antara Palembang dan Pulau Jawa. Perbedaan itu turut memengaruhi pendapatan para pelaku seni seperti dirinya.
“Kalau di Jawa, hiburan dangdut itu setiap hari ada. Di sini kebanyakan saat hajatan saja, biasanya akhir pekan,” jelasnya.
Meski demikian, ia tetap bersyukur atas dukungan masyarakat Palembang yang terus mengapresiasi penampilannya. Baginya, menjadi rompal bukan hanya soal meniru, tapi juga bentuk kecintaan terhadap musik dangdut yang telah membesarkan namanya.
“Merinding setiap tampil. Ada kebanggaan sendiri. Ini bukan cuma soal uang, tapi kepuasan batin,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan dan peluang yang tak selalu merata, ia terus melangkah. Dengan gitar bertanda tangan sang idola di tangan, dan gaya yang terus diasah, ia menjaga satu hal tetap hidup: semangat dangdut yang tak lekang oleh waktu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....