Empat Dekade Mengabdi, Pensiunan Brimob Kini Jaga Sekolah

  • 05 Mar 2026 09:10 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Langit Palembang belum sepenuhnya terang ketika Zainal Abidin mendorong gerbang sekolah setiap pagi. Udara Subuh yang lembap menyambutnya, namun langkahnya tetap tegap dan terukur seperti saat masih berdinas.

Seragam sekuriti yang dikenakannya selalu rapi dan bersih. Zainal memastikan sepatu mengilap dan tanda pengenal terpasang sempurna sebelum siswa berdatangan.

Di halaman SD IT Cendikia Faiha KM 9 Palembang, ia berdiri menyambut satu per satu murid. Sapaan hangatnya membuat anak-anak merasa aman sejak pertama menginjakkan kaki di sekolah.

"Saya ingin tetap bermanfaat meski sudah pensiun," kata Zainal dengan suara tenang, Selasa, 3 Maret 2026.

Zainal lahir di Palembang pada 1957 dari keluarga sederhana. Orang tuanya berasal dari Ogan Komering Ilir dan menanamkan nilai kerja keras sejak kecil.

Masa kecilnya diwarnai kehidupan yang apa adanya. Dirinya terbiasa membantu orang tua dan memahami arti tanggung jawab sejak dini.

Selepas menyelesaikan pendidikan SMP, ia tidak langsung melanjutkan sekolah. Ia memilih bekerja di perusahaan swasta demi membantu ekonomi keluarga.

Pengalaman bekerja itu membentuk mentalnya menjadi tangguh. Namun, hatinya masih menyimpan keinginan untuk mengenakan seragam negara.

Keinginan menjadi polisi muncul saat Zainal melihat aparat bertugas di daerahnya. Seragam yang gagah dan sikap disiplin mereka menumbuhkan rasa kagum.

Ia melihat profesi itu bukan sekadar pekerjaan. Baginya, menjadi polisi adalah bentuk kehormatan dan pengabdian.

Tahun 1979, Zainal memberanikan diri mendaftar Brimob Polda Sumsel. Seleksi ketat tidak menyurutkan tekadnya untuk mencoba.

"Alhamdulillah saya diterima, itu kebanggaan pertama saya," ujarnya.

Sebagai anggota Brimob, Zainal menjalani latihan fisik yang berat. Ia ditempa dengan kedisiplinan tinggi dan kesiapsiagaan setiap saat.

Selama tujuh tahun bertugas, Dirinya terlibat dalam berbagai pengamanan. Tugas lapangan mengajarkannya keberanian sekaligus kehati-hatian.

Ia belajar bekerja dalam tim dan menjaga solidaritas. Setiap operasi menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan kariernya.

"Seragam itu bukan gaya, tapi tanggung jawab," ucapnya.

Beralih ke Polisi Umum dan Pendidikan Lanjutan

Pada 1986, Zainal memutuskan pindah ke kepolisian umum. Keputusan itu diambil demi memperluas pengalaman dan tanggung jawab.

Dirinya mengikuti pendidikan reguler di Sampali, Medan, selama delapan bulan. Pendidikan tersebut memperkaya pengetahuannya tentang pelayanan masyarakat.

Sekembalinya dari pemasyarakat Zainal menyandang pangkat Sersan Dua. Penugasannya berlanjut di sejumlah polsek wilayah Palembang.

Selama 15 tahun di kepolisian umum, ia menghadapi beragam persoalan warga. Dari perkara kecil hingga konflik yang membutuhkan mediasi bijak.

Total masa dinas Zainal mencapai sekitar 40 tahun. Perjalanan panjang itu ia tutup dengan pangkat Ajun Inspektur Polisi Dua.

Zainal memasuki masa pensiun pada usia 58 tahun. Keputusan pensiun dijalaninya dengan rasa syukur dan kebanggaan.

Baginya, menjadi anggota Polri adalah bagian terpenting hidupnya. Ia merasa telah memberikan tenaga terbaik bagi negara.

"Saya bangga pernah menjadi bagian dari Polri," tuturnya singkat.

Meski resmi purnawirawan, Zainal tidak ingin berdiam diri di rumah. Ia merasa tubuhnya masih sehat dan perlu terus bergerak.

Kesempatan datang ketika SD Sekenia Paiha membutuhkan tenaga sekuriti. Ia menerima tawaran itu tanpa ragu.

Sudah delapan tahun ia menjaga sekolah tersebut. Tugas itu dijalaninya dengan kesungguhan yang sama seperti saat berdinas.

"Selama badan sehat, saya ingin tetap bekerja," katanya.

Sebagai sekuriti, ia tidak hanya menjaga gerbang. Ia memastikan ketertiban dan keamanan lingkungan sekolah setiap hari.

Ia membantu mengatur kendaraan saat jam masuk dan pulang. Ia juga mengawasi aktivitas di sekitar lingkungan sekolah.

Anak-anak mengenalnya sebagai sosok tegas namun ramah. Ia kerap menasihati mereka tentang disiplin dan hormat kepada guru.

Nilai-nilai kepolisian yang ia pegang masih melekat kuat. Ia percaya karakter dibentuk dari kebiasaan sederhana.

Di bulan Ramadan, rutinitasnya tetap berjalan seperti biasa. Ia berangkat kerja setelah menunaikan salat Subuh.

Di sela tugas, ia menyempatkan salat berjemaah di sekolah. Sore hari ia pulang untuk berbuka bersama keluarga.

Sebagai kakek, ia menikmati waktu bersama cucu. Ia membantu mengasuh dan berbagi cerita masa lalunya.

"Ramadan waktu memperbaiki diri dan mendekatkan keluarga," ujarnya.

Kini rambutnya telah memutih dan langkahnya lebih pelan. Namun, sorot matanya masih menyimpan ketegasan seorang aparat.

Dari Brimob hingga sekuriti sekolah, hidupnya tetap tentang pengabdian. Ia tidak pernah memandang rendah pekerjaan yang dijalaninya.

Baginya, setiap peran memiliki nilai jika dijalani dengan ikhlas. Ia percaya kerja jujur membawa keberkahan dalam hidup.

Zainal memilih terus berdiri di gerbang sekolah itu setiap pagi. Seragam boleh berganti, tetapi semangat pengabdiannya tetap sama.

Rekomendasi Berita