Menjaga Bukit Barisan, Menyemai Harapan dari Hulu Sungai

  • 26 Feb 2026 21:44 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Pagi itu, suara di Studio Pro 4 Radio Republik Indonesia Palembang terdengar hangat. Obrolan tentang hutan, sungai, dan masa depan pariwisata Sumatera Selatan mengalir ringan, namun sarat makna, Senin, 23 Februari 2026.

Dari balik mikrofon, Hendra Setiawan bercerita tentang langkah kecil yang terus dirawat bersama masyarakat di bentang alam Bukit Barisan.

Hendra bersama tim Masyarakat Sadar Wisata (MASATA) Sumatera Selatan, aktif bergerak di sembilan kabupaten/kota kawasan Bukit Barisan. Fokusnya satu yakni menjaga hutan sekaligus membangun ekowisata berbasis kesadaran.

“Wisata itu harus ramah lingkungan. Jangan sampai orang datang menikmati alam, tapi meninggalkan luka,” ujarnya.

Hendra menjelaskan pada hari Minggu, 22 Februari 2026, mereka turun langsung membersihkan hulu-hulu sungai di kawasan Musi dan Ogan. Bukan sekadar aksi pungut sampah, melainkan juga edukasi kepada warga tentang pentingnya menjaga kawasan hulu.

Sebab dari sanalah kehidupan bermula dari air bersih, pertanian, hingga denyut ekonomi masyarakat.

Sementara itu Kawasan Bukit Barisan terbagi dalam beberapa zona, termasuk hutan lindung. Namun bukan berarti tak bisa dimanfaatkan. Melalui program perhutanan sosial, masyarakat tetap diberi ruang mengelola kawasan secara bijak, baik melalui skema hutan kemasyarakatan maupun izin pinjam pakai untuk wisata berbasis alam.

“Sadar wisata itu dimulai dari diri sendiri. Jangan buang sampah sembarangan. Tingkatkan keindahan, bukan malah merusak,” kata Hendra.

Baginya, kesadaran adalah fondasi. Jika masyarakat sudah sadar, maka pelaku, pecinta, dan pemerhati pariwisata akan otomatis menjaga kawasan yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Sumatera Selatan dikenal kaya hasil alam seperti kopi, aren, durian, duku, hingga madu hutan. Tanaman-tanaman ini bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari kearifan lokal yang menjaga keseimbangan hutan.

Hendra mengingatkan, nilai pelestarian lingkungan sudah diwariskan sejak lama. Dalam Prasasti Talang Tuwo, yang berusia lebih dari 1.600 tahun, tertulis pesan tentang pentingnya menjaga alam dan kesejahteraan bersama.

Kini, pesan itu coba dihidupkan kembali lewat aksi nyata: penanaman tanaman lokal di OKU Selatan, OKU, Muara Enim, Lahat, Pagar Alam, Musi Rawas hingga wilayah perbatasan Bengkulu.

Menurutnya, kawasan hulu tak boleh sembarangan dialihfungsikan. Jika hutan habis diganti tanaman monokultur yang tak sesuai, risiko banjir dan kerusakan lingkungan mengintai.

Sebaliknya, jika dikelola berbasis kearifan lokal, hutan justru menjadi sumber ekonomi berkelanjutan seperti gula aren, madu hutan, hingga kopi yang lebih sehat dengan pemanis alami.

“Kalau hutannya tidak terjaga, dari mana kita dapat madu terbaik? Dari mana kopi berkualitas itu lahir?” ucapnya.

Obrolan pagi itu berakhir dengan pesan sederhana namun dalam yakni jaga dulu alamnya, baru nikmati hasilnya. Ekowisata bukan sekadar destinasi, melainkan komitmen jangka panjang antara manusia dan lingkungan.

Di hulu-hulu sungai Bukit Barisan, langkah-langkah kecil itu terus ditanam. Sebab menjaga bumi bukan pekerjaan sehari, melainkan gerakan bersama yang harus dirawat lintas generasi.

Rekomendasi Berita