Dari NII, Imron Kini Jaga Generasi dan Persatuan
- 25 Feb 2026 07:55 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, OKU Timur - Pagi di Desa Batu Mas, Kecamatan Belitang II, Kabupaten OKU Timur, selalu datang perlahan. Kabut tipis menggantung di atas hamparan sawah, sementara suara azan Subuh memantul dari surau kecil di sudut kampung.
Di desa itulah Imron dilahirkan dan dibesarkan, tumbuh dalam keluarga sederhana yang memegang kuat nilai agama dan gotong royong. Sejak kecil, ia dikenal ceria, tekun mengaji, dan tak pernah jauh dari kegiatan keagamaan kampung.
"Saya lahir dan besar di sini," kata Imron menceritakan awal kehidupannya sembari memberikan makan ayam peliharaannya seperti pagi-pagi biasanya, Selasa, 24 Februari 2026.
Namun tak ada yang menyangka, perjalanan hidupnya sempat berbelok jauh. Anak desa yang tumbuh dalam suasana religius itu pernah terseret arus ideologi yang bertentangan dengan dasar negara.
Pintu Masuk Bernama Diskusi
Tahun 2012 menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat itu, Imron mulai sering mengikuti diskusi keagamaan yang digelar secara tertutup di lingkungan sekitar.
Diskusi tersebut awalnya terasa biasa, membahas tafsir, sejarah Islam, dan kondisi sosial umat. Tidak ada simbol mencolok atau nama organisasi yang disebut secara terang-terangan.
"Biasanya door to door, kebanyakan dari lingkungan keluarga sendiri," ungkapnya.
Namun perlahan, arah pembahasan berubah. Narasi yang disampaikan semakin tajam dan eksklusif, membangun garis tegas antara “kami” dan “mereka”.
Sebagian besar ajakan datang dari lingkaran terdekat. Kedekatan emosional membuatnya tidak menaruh curiga dan justru merasa sedang berada di jalan perjuangan.

Terjerat dalam Loyalitas Ideologis
Dalam waktu singkat, Imron menjadi bagian dari jaringan Negara Islam Indonesia. Doktrin tentang ketidakadilan sistem negara terus diulang dan ditanamkan.
Ia menjalani kehidupan ganda selama hampir satu dekade. Di satu sisi, ia tetap berbaur dengan masyarakat, namun di sisi lain terikat komitmen kelompok yang menuntut loyalitas penuh.
"Semua terasa benar saat itu," kenangnya.
Narasi yang dibangun membuatnya percaya bahwa jalan tersebut adalah bentuk pengabdian. Pertanyaan kritis yang muncul perlahan ditekan oleh solidaritas kelompok.
Titik Balik Tahun 2022
Seiring waktu, keraguan mulai tumbuh. Ia melihat ketidaksesuaian antara doktrin dan kenyataan sosial di lapangan.
Tahun 2022 menjadi momentum perubahan. Imron memutuskan keluar dari jaringan tersebut dan kembali meneguhkan komitmen pada NKRI.
"Sejak 2012 saya bergabung, dan pada tahun 2022 saya memutuskan keluar," kata Imron.
Keputusan itu tidak mudah. Ada tekanan psikologis dan kekhawatiran akan konsekuensi sosial yang harus dihadapi.
Pendekatan Humanis Aparat Kepolisian
Dalam fase krusial itu, peran kepolisian menjadi signifikan. Imron mengakui pendekatan aparat jauh dari bayangan menakutkan yang selama ini didoktrinkan kepadanya.
"Kami dirangkul, bukan dimusuhi," ujarnya tegas.
Pembinaan dilakukan secara dialogis dan persuasif. Aparat membuka ruang diskusi tanpa intimidasi atau tekanan fisik.
Pendekatan tersebut mematahkan propaganda internal yang selama ini ia yakini. Ia merasakan negara hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pembina.
Menurutnya, strategi presisi dan humanis memberi ruang refleksi. Pendekatan kemanusiaan itulah yang perlahan mengubah pandangannya.
Kembali dan Dipercaya Masyarakat
Kini, peran Imron berubah drastis. Ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Anak Ranting Muhammadiyah di Desa Batu Mas.
Kepercayaan itu dibangun melalui proses panjang. Ia aktif dalam kegiatan sosial, dakwah, dan pembinaan remaja masjid.
"Alhamdulillah masih dipercaya mengemban amanah sebagai ketua ranting dan ketua BPD."
Ia memilih tidak menyembunyikan masa lalunya. Baginya, pengalaman tersebut adalah pelajaran berharga yang harus dibagikan.
Ia ingin generasi muda memahami bahwa infiltrasi ideologi sering hadir tanpa disadari. Jalan yang tampak religius belum tentu sejalan dengan konstitusi.
Ramadan dan Kewaspadaan Kolektif
Memasuki Ramadan 1447 Hijriah, Imron kembali menyuarakan kewaspadaan. Ia menilai momentum ibadah kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan paham menyimpang.
Aktivitas keagamaan yang meningkat membuka ruang interaksi luas. Forum diskusi dan ruang digital menjadi medium penyebaran narasi.
"Anak usia belasan sangat mudah dipengaruhi," katanya.
Ia menyoroti kelompok usia 11 hingga 18 tahun sebagai target paling rentan. Pada fase pencarian jati diri, mereka mudah menerima gagasan yang dibungkus secara persuasif.
Peran Keluarga dan Literasi Digital
Imron menegaskan pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi anak.
"Peran orang tua sangat penting sekali dalam mengawasi dan memberikan pemahaman yang benar," ujarnya.
Pengawasan terhadap aktivitas digital menjadi keharusan. Grup percakapan tertutup dan forum daring harus dicermati secara bijak.
Ia juga mengajak masyarakat tidak ragu berkoordinasi dengan aparat bila menemukan aktivitas mencurigakan. Langkah preventif dinilai lebih efektif daripada penindakan.
Sinergi Tokoh Agama dan Kepolisian
Menurut Imron, kepolisian memiliki peran strategis menjaga stabilitas sosial. Namun pendekatan presisi dan humanis harus terus dipertahankan.
"Biarlah Polri tetap berjalan seperti biasa, jangan ada perubahan," ungkapnya.
Strategi tersebut terbukti efektif merangkul individu yang terpapar. Dialog dan edukasi berjalan seiring dengan penegakan hukum.
Ia menilai komunikasi terbuka antara tokoh agama dan aparat menjadi fondasi penting. Kepercayaan publik adalah kunci mencegah infiltrasi ideologi.
Dari Masa Lalu ke Pengabdian
Kini, Imron aktif memberikan penyuluhan kepada remaja masjid. Cerita masa lalunya disampaikan sebagai peringatan, bukan pembenaran.
"Jangan ulangi kesalahan saya," pesannya kepada generasi muda.
Ramadan tahun ini ia jalani dengan kesadaran penuh. Dari pengalaman kelam, ia memilih menjadi penjaga persatuan.
Baginya, kembali ke pangkuan ideologi negara bukan sekadar keputusan politik. Itu adalah pilihan moral dan tanggung jawab untuk menjaga generasi penerus bangsa.