Kurikulum Berganti, Omzet Buku Bekas Tergerus
- 19 Feb 2026 14:10 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Tumpukan buku bekas tersusun rapi di lapak sederhana depan Masjid Agung Palembang. Di bawah terik matahari, Solihin tetap setia menunggu pembeli. Namun, beberapa tahun terakhir, ia mengaku pendapatannya terus menurun.
Menurut Solihin, salah satu penyebabnya adalah perubahan kurikulum yang terlalu sering terjadi. Setiap tahun ajaran baru, buku pelajaran ikut berganti. Dampaknya, buku bekas yang ia jual makin jarang dicari.
“Kurikulum diharapkan tidak berubah-ubah sehingga buku bekas yang dijual bisa banyak dicari pembeli dan dapat meningkatkan pendapatan kami sebagai penjual buku bekas,” ujar Solihin saat ditemui di lokasi berjualannya, Rabu, 19 Februari 2026.
Ia bercerita, dulu para pedagang buku loak terpusat di bawah Jembatan Ampera. Setelah penataan kawasan kota, mereka berpindah ke depan Masjid Agung Palembang. Meski lokasi tetap strategis, jumlah pembeli tak seramai dulu.
Mayoritas pembeli kini datang dari kalangan mahasiswa dan guru. Mereka mencari referensi tambahan yang tak selalu tersedia di internet.
“Kebanyakan yang mencari buku bekas ini mahasiswa atau guru untuk mencari tambahan referensi mata kuliah yang tidak semuanya bisa didapatkan dari internet,” katanya.
Teknologi dan perubahan pola baca masyarakat juga menjadi tantangan. Buku digital dan materi daring membuat minat terhadap buku cetak menurun. Ditambah lagi, minat baca masyarakat yang disebutnya semakin berkurang.
Solihin menjelaskan, buku-buku yang ia jual sebagian besar dibeli dari agen tukang barang bekas. Harga jual pun harus disesuaikan dengan modal. Jika pembeli menawar terlalu rendah, keuntungan yang didapat kian tipis.
Meski begitu, ia tetap menjaga kualitas buku yang dijual. Kondisi fisik diperiksa agar pembeli tidak kecewa. Harga pun dipatok tidak terlalu jauh dari standar buku cetak sejenis.
Biasanya, lapaknya ramai saat tahun ajaran baru. Orang tua dan mahasiswa berburu buku pelajaran dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Namun, jika kurikulum kembali berubah, stok lama kembali menumpuk.
“Sangat diharapkan setiap tahun jangan berganti terus kurikulum belajarnya. Kalau bisa selama lima tahun tidak mengalami perubahan, jadi bisa meningkatkan pendapatan kami sebagai penjual buku bekas,” tutur Solihin.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pedagang buku loak seperti Solihin masih bertahan. Mereka berharap kebijakan pendidikan yang lebih stabil bisa ikut menjaga denyut usaha kecil yang selama ini hidup dari lembaran-lembaran buku lama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....