Medco Tanam Mangrove, Serap Karbon 10 Kali Lipat

  • 12 Nov 2025 23:44 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Medco Ekplorasi dan Produksi (E&P) Indonesia menanam ribuan batang mangrove di wilayah pesisir Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel). Penanaman mangrove itu dinilai memiliki kontribusi besar dalam penyerapan karbon.

“Sebagai Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) perusahaan Minyak dan Gas (Migas), Medco E&P melihat mangrove memiliki kontribusi paling besar dalam penyerapan karbon. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan untuk merehabilitasi lingkungan dan mitigasi perubahan iklim,” kata Manager Field Relation & Community Enhancement Medco E&P Indonesia, Hirmawan Eko Prabowo, Rabu (12/11/25) kepada rri.co.id.

Sejak 2024, Medco E&P telah menanam 33 ribu mangrove di wilayah Banyuasin melalui program pengembangan masyarakat di bidang lingkungan. Penanaman mangrove itu di luar kewajiban Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH).

“Di tahun 2024 sebanyak 18 ribu bibit mangrove ditanam dengan melibatkan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Sungsang IV. Program diluar kewajiban perusahaan itu kembali dilanjutkan di tahun ini dengan dengan menanam 14 ribu batang mangrove,” rinci Eko.

Desa Sungsang IV merupakan wilayah tepat dalam melakukan penanaman mangrove, mulai dari lahan dan masyarakat yang tergabung dalam LPHD. Dukungan yang diberikan Medco E&P di Desa Sungsang IV mulai dari pembiayaan, pendampingan teknis dan penyediaan bibit.

“Dukungan itu juga mendorong partisipasi masyarakat untuk menghasilkan dampak ekonomi melalui wisata lingkungan dan produk turunan mangrove. Harapannya masyarakat Desa Sungsang IV semakin sejahtera, dan Sumsel makin dikenal dunia melalui penanaman mangrove yang menjadi banyak upaya NGO (organisasi non pemerintah) seperti CIFOR,” jelas Eko.

Dukungan SKK Migas Sumbagsel.

Kepala Departemen Formalitas dan Komunikasi SKK Migas Sumbagsel, Safei mengatakan berbagai upaya banyak dilakukan industri hulu migas dalam pelestarian lingkungan. “Penanaman mangrove, tidak hanya menjaga lingkungan namun juga untuk mencapai target zero emisi,” ucapnya kepada rri.co.id Rabu (12/11/25) .

Safei menyebut berdasarkan Key Performance Indicator (KPI) SKK Migas Sumbagsel diberikan kewajiban menanam 2 juta pohon di wilayah kerja. “Kegiatan itu menjadi wajib bukan hanya mencari migas namun juga menjaga lingkungan,” pungkasnya.

Sementara penanaman mangrove yang dilakukan merupakan diluar kewajiban perusahaan. Namun komitemen KKKS salah satunya Medco E&P membuktikan komitemen perusahaan migas dalam menjaga lingkungan.

Mangrove di Sumatera Selatan.

Mangrove merupakan ekosistem yang tumbuh di sepanjang garis pantai atau wilayah pesisir. Di Sumatera Selatan (Sumsel) Mangrove banyak tumbuh di wilayah Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Musi Banyuasin.

Direktur Riset dan Kampanye Hutan Kita Institue (HaKI) Adios Syafri merinci berdasarkan hasil data Kementrian Lingkungan Hidup (KLHK) luasan tutupan mangrove di Sumsel tahun 2024 mencapai 175 ribu Hektare. Capaian itu tidak jauh dengan data Biomass Indonesia yang merinci luasan tutupan mangrove di Sumsel 170 ribu hektare.

Namun luasan tutupan mangrove dengan kondisi baik, sedang dan jarang ada juga kondisi mangrove yang telah terabrasi (rusak). “Berdasarkan data KLHK, mangrove rusak mencapai 50 ribu hektare, sama dengan data yang di sampaikan Biomass Indonesia,” sambungnya.

Adios menuturkan ekosistem mangrove yang terabrasi disebabakan wilayah pesisir yang beralih fungsi menjadi kawasan tambak. “Kemudian penyebab lainnya karena adanya tanah timbul akibat faktor alam di kawasan ekosistem mangrove,” jelasnya.

Manfaat Hutan Mangrove.

Mangrove memiliki banyak peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. “Dari sisi lingkungan mangrove dengan akarnya dapat menahan gelombang dan melindungi kawasan pesisir,” lanjut Adios.

Peranan lainnya, hutan mangrove dapat membantu menyaring air laut (intrusi) masuk ke daratan dengan menyaring endapan lumpur yang ada. “Dari sisi ekologis, mangrove memiliki peranan penting dalam menjaga kelestarian biota air laut, bahkan yang hampir punah dapat dipulihkan kembali dengan adanya mangrove,” sambungnya.

Jadi secara ekologis lainnya, mangrove menjadikan solusi alami untuk menghadapi perubahan iklim yang terjadi saat ini. “Tentunya kawasan hutan mangrove memberikan oksigen yang kita butuhkan,” jelasnya.

Dari sisi ekonomis, mangrove yang sangat penting ini memberikan sumber kebutuhan pangan seperti ikan, kepiting dan produk laut lainnya yang bisa dikonsumsi. Batang mangrove pun dapat dijadikan bahan baku keperluan rumah tangga dan industri.

“Jika dikembangkan ekowisata, mangrove juga dapat memberikan dampak ekonomis untuk masyarakat sekitar. Selain itu ekowisata mangrove juga bisa mengedukasi pentingnya pelestarian mangrove,” sambung Adios.

Mangrove Serap 10 Kali Lipat Karbon.

Dari sekian banyak manfaat mangrove, Adios menegaskan kawasan hutan mangrove mampu menyerap 10 kali lipat karbon dibandingkan kawasan hutan lainnya. “Hal ini terjadi karena mangrove mampu menyimpan karbon dalam jumlah besar di tanah dan biomassa batangnya. Mangrove juga memiliki laju penyerapan yang lebih tinggi dibandingkan hutan lain.,” ungkapnya.

Kualitas karbon plus hutan mangrove perlindungan dan restorasinya untuk mencapai tujuan zero emisi demi membatasi pemanasan global sesuai dengan Perjanjian Paris. Adios menyampaikan penting untuk memperluas lahan hutan mangrove saat ini karena dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mengurangi emisi karbon.

“Keunikan tanaman mangrove juga pada biomasa yang ada di bawah tanah dan di atas permukaan tanah dapat menyimpan sejumlah besar karbon. Jadi, tak hanya pada tanamannya saja,” jelasnya.

Dampak Pembangunan Mangrove yang Dilakukan Medco E&P.

Ekosistem mangrove menimbulkan ketertarikan bagi perusahaan yang mengekplorasi sumber daya alam dengan menghasilkan emisi. “Dengan kita menanam mangrove, hasil tangkap karbon lebih tinggi dibandingkan hutan biasa,” jelas Adios.

Sehingga perusahaan migas seperti Medco E&P memiliki rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan juga turut serta dalam menekan emisi gas rumah kaca dengan menyerap karbon. “Banyak perusahan terdorong melakukan penyerapan karbon disamping tanggung jawab mengembalikan fungsi hutan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sungsang IV Romi Adi Candra mengatakan kegiatan penanaman yang dilakukan LPHD bersama KKKS salah satunya Medco E&P memberikan dampak yang luar biasa bagi desanya. “Tidak hanya mamfaat lingkungan namun juga dampak ekonomi warga desa,” katanya kepada rri.co.id, Rabu (12/11/25).

Mulai dari merehabilitasi ekositem pesisir, mengurangi abrasi pantai dan menjaga habitat satwa seperti burung dan biota laut. Selain itu, Romi menuturkan penanaman mangrove Medco E&P juga melibatkan masyarakat, kelompok nelayan dan pemuda desa.

“Dampak awal yang dirasakan mengurangi kecepatan arus gelombang, menambah area tutupan hijau. Kemudian menanam mangrove di desa kami juga dapat menjadikan desa kami sebagi edukasi lingkungan dan wisata alam,” sambung Romi.

Wisata yang ditawarkan di Desa Sungsang IV, Romi merinci seperti menyusuri hutan mangrove dengan perahu kemudian memancing dan menikmari kuliner laut segar. “Wisatawan juga dapat mengikuti tur edukasi tentang ekosistem pesisir,” katanya.

Selain itu, dengan mangrove Romi menceritakan warga desa dapat membuat produk turunannya bernilai ekonomis seperti dodol mangrove dan sabun mangrove. “Ada juga pempek udang dan kemplang udang, karena semakin banyak mangrove semakin berkembang populasi udang di desa kami,” pungkasnya.

Rekomendasi Berita