Kisah Selembar Kain Emas dari Australia ke Palembang

  • 29 Okt 2025 21:46 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Pete Muskens tidak pernah menyangka bahwa kain yang pernah ia jadikan taplak meja di rumahnya di Melbourne ternyata memiliki nilai sejarah luar biasa. Kain itu merupakan peninggalan ayahnya, seorang pengacara Belanda yang bertugas di Indonesia sekitar tahun 1945 hingga 1951.

“Orang tua saya berpesan, ini kain dari Palembang, tolong disimpan baik-baik,” kenangnya dengan suara bergetar saat prosesi penyerahan di Palembang, Rabu (29/10/2025).

Ayah Pete mendapatkan songket itu dari seorang pilot Belanda sebagai pelunasan utang pada tahun 1949. Sejak itu, kain tersebut disimpan di loteng, nyaris terlupakan. Hingga suatu hari, saat berkunjung ke museum di Sumatera Barat pada Mei 2025, Pete melihat kain yang serupa.

Rasa penasarannya tumbuh. Ia mulai menelusuri kisah di balik kain itu lewat internet. Pencarian itu membawanya ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, tempat ia akhirnya memutuskan untuk menyerahkan kain berharga itu.

“Saya tahu, sudah saatnya kain ini pulang,” ujarnya singkat, namun penuh makna.

Kain tersebut berhasil di bawa ke Palembang dan hibahkan di museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Inilah Songket Limar Bunga Cogan, tenun tradisional Palembang yang diperkirakan berusia lebih dari seratus tahun.

Di atas meja kayu Rumah Dinas Wali Kota Palembang, selembar kain berkilau lembut dibentangkan dengan penuh hati-hati. Benang emasnya memantulkan cahaya, seolah masih menyimpan kemegahan masa silam.

Kain berukuran 80x200 sentimeter itu bukan sekadar warisan, melainkan saksi bisu perjalanan lintas benua. Setelah tersimpan lebih dari tiga dekade di loteng rumah Pete Muskens (70), warga negara Australia keturunan Belanda, songket itu akhirnya “pulang kampung”.

Bagi Wali Kota Palembang Ratu Dewa, hibah ini bukan sekadar penyerahan benda, tapi pengembalian ingatan kolektif sebuah bangsa. Ratu Dewa berharap, kehadiran songket berusia seabad itu bisa menjadi daya tarik wisata sekaligus sumber pembelajaran bagi generasi muda

“Kami sangat berterima kasih atas keikhlasan Mr. Pete. Songket ini memiliki nilai seni dan sejarah yang luar biasa. Kini menjadi koleksi resmi Museum SMB II. Setiap helai benangnya menyimpan cerita tentang ketekunan, keindahan, dan jati diri orang Palembang,” ujarnya.

Prosesi penyerahan dilakukan di Rumah Dinas Wali Kota Palembang disaksikan bebearpa tokoh, para sejarawan, budayawan, dan tamu undangan. Hadir dalam momen ini Sultan Palembang Darussalam Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV Jaya Wikrama RM Fauwaz Diradja yang terlihat haru melihat warisan nenek moyang itu kembali ke tanah asalnya.

“Alhamdulillah, artinya orang-orang di luar negeri masih menghargai sejarah kita. Semoga ini menginspirasi masyarakat Palembang agar turut mengembalikan dan melestarikan warisan budaya kita sendiri,” harapnya.

Sementara itu menurut Ilham Zhuliansyah, Ketua Masyarakat Peduli Indikasi Geografis (MPIG) Songket Palembang mengatakan kain tersebut merupakan jenis Songket Berlimar Bunga Cogan. Tenun langka yang dibuat pada awal abad ke-20 menggunakan benang emas jantung. Teknik tenunannya sangat halus, memadukan seni, ketelitian, dan simbol kemakmuran masyarakat Palembang masa lalu.

“Dulu, kain seperti ini hanya dipakai kalangan ningrat. Tidak semua orang bisa memilikinya,” ujar Ilham.

Kini, Songket Limar Bunga Cogan itu akan menghuni ruang pamer Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, tak lagi terlipat di loteng, melainkan terbentang untuk menceritakan kisahnya kepada setiap pengunjung.

Selembar kain ini mengajarkan satu hal sederhana namun berharga bahwa warisan budaya, sejauh apa pun ia pergi, selalu tahu jalan pulang. Karena di setiap helaian benang emasnya, Palembang bernafas — dan sejarah pun berbisik, “Aku kembali.”

Rekomendasi Berita