Kisah Tragis di Balik Uang Sepuluh Ribu Rupiah
- 27 Okt 2025 14:18 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Di balik uang Rp 10.000,- yang pernah kita genggam, tersimpan kisah duka seorang Sultan yang pernah dikhianati. Dikutip dari laman Wikipedia Indonesia, pada awal abad ke – 19 di zaman Kesultanan Palembang yang makmur, ada seorang pemimpin yang cerdas, saleh, dan tak kenal takut. Ia adalah Sultan Mahmud Badaruddin II. Seorang Sultan di era Kesultanan Palembang Darussalam. Ketika bangsa-bangsa Eropa, menguasai pulau Andalas (Pulau Sumatera) dengan segala keserakahannya. Belanda dan Inggris silih berganti datang bagai gelombang pasang mencoba menancapakan kuku kekuasaannya di tanah Sumatera yang kaya akan timah dan lada.
Sultan Mahmud Badaruddin II menolak tunduk pada Inggris dan Belanda yang ingin menguasai Palembang. Ia melihat kelicikan di balik setiap perjanjian, dan keangkuhan bangsa Eropa. Kedaulatannya tidak untuk ditawar, tanah kelahirannya bukanlah harta yang bisa dijual. Maka, ia memilih jalan yang paling terhormat, melawan. Ia memimpin Perang Menteng melawan pasukan Inggris dan Belanda. Benteng-benteng pertahanan diperkuat. Pasukan disiapkan. Serangan demi serangan ia lawan, hingga istananya terbakar dan rakyatnya porak-poranda. Sungai Musi yang megah menjadi saksi bisu dari pertempuran-pertempuran sengit itu. Api dan meriam menari di atas air, mengobarkan semangat pertempuran.
Selama bertahun-tahun, dari tahun 1811 hingga 1821, Palembang menjadi bara api perlawanan yang tak pernah bisa benar-benar dipadamkan oleh Belanda. Berkali-kali mereka menyerang berkali-kali juga mereka dipukul mundur. Namun segalanya kembali lagi kepada kekuatan yang tak seimbang, persenjataan yang rakyat pribumi miliki tak sebanding dengan peralatan perang canggih milik pasukan Belanda dan Inggris. Keadaan semakin diperparah oleh politik adu domba yang licik. Hingga akhirnya membuat pertahanan itu goyah.
Pada tahun 1821, setelah pertempuran sengit yang terakhir, di mana Belanda mengerahkan kekuatan terbesarnya. Sultan Mahmud Badaruddin II akhirnya ditangkap. Ia memang tidak diadili namun tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Belanda tahu, semangat perlawanan Sultan ini terlalu besar untuk dipenjara di tanahnya sendiri. Belanda yang picik bisa membaca bahwa api di dalam dirinya bisa kembali menyulut pemberontakan. Maka mereka memilih hukuman yang paling kejam bagi seorang pemimpin yang mencintai rakyatnya, yaitu pengasingan.
Sultan Mahmud bersama seluruh keluarganya dibuang ke sebuah pulau yang sangat jauh di ujung Timur Hindia Belanda. Nama pulau itu adalah Ternate. Terpisahkan jarak ribuan kilometer dari tanah Palembang yang sangat ia cintai. Di sana, di tanah yang asing Sang Sultan menghabiskan sisa hidupnya. Namun bukan lagi sebagai Sultan yang agung, melainkan sebagai seorang tawanan politik. Mungkin setiap hari ia menatap lautan. Merindukan aroma Sungai Musi dan mendengarkan gema pertempuran yang tak pernah ia sesali. Hingga pada 26 September 1852 setelah 31 tahun hidup dalam pengasingan, ia wafat dalam kesunyian. Jauh dari istana dan rakyatnya. Namun namanya tetap hidup sebagai simbol keberanian dan kehormatan Palembang.
Jasad Sultan Mahmud Badaruddin II dimakamkan di Ternate. Dia telah wafat di tanah pengasingan terpisah dari tanah air yang ia bela. Tapi semangatnya tak pernah terasingkan. Ia tetap hidup mengalir di dalam darah setiap anak bangsa yang menolak untuk tunduk pada ketidakadilan dan penindasan. Dikutip dari laman Instagram “Arsip Peristiwa.”
Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan mata uang Rupiah pecahan 10.000 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2005.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....