Selain Sarana Pertunjukan,Teater Merupakan Penjaga Indentitas Bangsa

  • 29 Sep 2025 21:55 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Teater bukan sekadar tontonan, melainkan sarana menjaga identitas bangsa. Hal itu disampaikan penggiat teater dari Rumah Sunting Riau yang menegaskan bahwa basis utama karya mereka adalah tradisi dan kearifan lokal. Rumah Sunting satu dari 10 komunitas teater di Sumatera yang mengisi kegiatan Festival Teater Sumatera (FTS) 24 - 25 September 2025 di Taman Budaya Sriwijaya Jakabaring Palembang Sumatera Selatan.

“Bahasa kita sebenarnya teater yang mengulik sesuatu yang akarnya pada tradisi dan kearifan lokal. Jadi menjaga identitas bangsa ini melalui karya teater,” ungkap Kuni dalam penjelasannya dengan RRI, Minggu (28/09/2025).

Kuni Masrohati selaku Founder dan Ketua Teater Rumah Sunting menggatakan kalau teater yang dikelolanya sejak 2012 selalu konsisten menghadirkan pertunjukan teater berskala besar setahun sekali. Selain itu, mereka aktif menggelar pentas keliling ke kampung-kampung.

“Biasanya kita menyesuaikan dengan kondisi masyarakat di kampung. Ini juga jadi rumah belajar bagi adik-adik yang baru bergabung di Rumah Sunting,” jelasnya.

Konsep pembelajaran teater di Rumah Sunting memang berbeda. Anggota baru tidak hanya belajar di panggung besar, melainkan langsung turun ke masyarakat. “Bukan hanya menjadi aktor di panggung besar, tapi juga aktor yang berguna di tingkat tapak,” katanya.

Rumah Sunting juga telah menorehkan jejak di berbagai panggung luar kota, antara lain Jakarta, Padang, Medan, dan Riau. Antusiasme masyarakat, terutama pelajar, cukup tinggi meski jumlah kelompok teater di luar sekolah masih terbatas.

Kuni menambahkan selain Rumah Sunting, geliat teater di Riau juga ditopang oleh kehadiran Jaringan Teater Riau yang baru berusia tiga tahun. Jaringan Teater ini menjadi rumah besar bagi seniman teater, baik yang telah lama berkarya maupun komunitas baru yang sedang tumbuh.

“Jadi sebagai tempat komunikasi, diskusi, tampil teater saling mendukung, dan ada pertemuan namanya Pesta Teater Riau yang digelar setiap tahun,” ujarnya.

Didirikan oleh sejumlah seniman termasuk Kuni, Petli dan Marhalim Jaringan Teater Riau sengaja hadir untuk menyatukan para pegiat teater agar tidak berjalan sendiri-sendiri. Pendanaan kegiatan pun masih dilakukan secara swadaya dengan sistem patungan.

Sementara itu dalam karya nya berjudul Datuk Pagar di Festival Teater sumatera yang mengusung tema besar Pangan, Tanah Air, dan Ingatan. Mereka menyoroti persoalan masyarakat adat yang kerap menjadi korban dari kepentingan kapitalisme, alih fungsi hutan, dan berkurangnya hak-hak tradisi.

“Bukan hanya mengubah sumber daya alam, tapi juga adat, tradisi, dan budaya masyarakat lokal ikut berubah. Pertentangan sering terjadi antara masyarakat dengan perusahaan, masyarakat dengan pemerintah, hingga tokoh budaya yang terpengaruh janji-janji korporasi,” paparnya dalam konsep cerita yang di bawakan.

Kuni berharap Festival Teater Sumatra di Palembang tidak berhenti pada tahun ini. “Festival ini bukan hanya ajang silaturahmi atau ekspresi seni, tapi juga momen menyampaikan ide-ide penting kepada bangsa. Seniman punya jalan dan caranya sendiri untuk terus bersuara,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....