Menjaga Denyut Perahu Bidar di Tengah Modernisasi
- 16 Sep 2025 22:38 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Di Kelurahan 35 Ilir, Palembang, bunyi ketukan pahat masih sesekali terdengar dari bengkel sederhana milik Encik Muhammad Alaudin Saka Garhan atau akrab disapa Encik Jaka. Ia satu dari sedikit orang yang bertahan menekuni tradisi membuat perahu bidar, ikon Sungai Musi yang kini kian jarang dilirik generasi muda.
Encik Jaka adalah generasi ketiga dalam keluarganya. Namun, pekerjaan itu tak lagi jadi rutinitas. Ia hanya membuat bidar bila ada pesanan saja.
“Pertama kali saya membuat bidar sekitar tahun 2003, dikerjakan gotong royong. Tukang-tukang tua waktu itu masih ada, tapi sekarang banyak yang sudah tiada,” katanya lirih.

Encik Muhammad Alaudin Saka Garhan, salah seorang pembuat perahu Bidar yang masih bertahan.
Membuat bidar tidak bisa sembarangan. Kayu pilihan harus didatangkan dari daerah lain, mulai dari Muara Enim, Lahat, hingga Musi Banyuasin. Jenisnya pun terbatas: merawan, meranti, bungur, leban, kayu keras dan lentur yang tahan lama di air.
“Kalau bahannya sudah ada, pengerjaan biasanya dua bulan dengan empat orang tukang. Dari papan panjang sembilan sampai lima belas meter, bisa dirakit jadi perahu utuh sepanjang 31 meter. Agar awet, bidar harus disimpan di perumahan, semacam garasi tertutup,” jelas Encik Jaka.
Tidak ada ritual khusus yang menyertai proses pembuatan bidar. Hanya doa keselamatan dan bacaan Yasin. Namun bagi para pengrajin, setiap sambungan papan dan pahat yang mengetuk adalah bagian dari nilai luhur yang diwariskan turun-temurun.
“Bidar itu lambang kekompakan. Sama seperti mendayung, tak mungkin bisa sendirian. Harus bersama-sama agar sampai tujuan. Itu filosofi yang kami jaga,” ucap Encik Jaka sambil menatap perahunya yang terparkir di tepi bengkel.
Harga sebuah bidar bukan perkara kecil. Untuk ukuran standar, ongkosnya bisa mencapai Rp75 juta. Jika ditambah perlengkapan dayung dan perumahan, totalnya bisa menembus Rp. 100 juta lebih. Tak heran, jumlah bidar di Palembang kini hanya tinggal hitungan jari.
“Paling sepuluh buah saja yang masih terawat. Biaya dan perawatan besar, jadi tidak banyak orang sanggup membuatnya,” kata Encik Jaka.
Meski begitu, ada kebanggaan tersendiri yang membuatnya tetap bertahan. Setiap kali bidar hasil karyanya melaju gagah di Sungai Musi, ia merasa perjuangannya tak sia-sia.

“Yang pasti kita bangga, pasti bangga ada kebanggaan tersendiri, bahwa bidar yang kita bikin, bidar yang kita buat, hasil karya kita. Ditambah lagi kalau menang, bangganya luar biasa,” katanya dengan mata berbinar.
Namun kebanggaan itu tak selalu sebanding dengan perhatian publik. Banyak generasi muda lebih tertarik pada gawai ketimbang mengenal tradisi bidar yang justru menjadi simbol kebersamaan wong Palembang.
Sejarawan Prof. Dr. Farida, M.Si menegaskan, bidar bukan hanya perahu hias untuk lomba tahunan. Sungai Musi sejak lama menjadi urat nadi kehidupan, tempat masyarakat bertemu, berdagang, hingga berinteraksi sosial.
“Dulu rumah-rumah di Palembang saling berhadapan karena dipisahkan anak sungai. Perahu jadi alat utama. Maka bidar hadir bukan sekadar hiburan, melainkan pengikat kehidupan sosial dan kebanggaan komunitas,” ujarnya.
Jejak bidar bahkan bisa dilacak sejak masa Kesultanan Palembang. Catatan abad ke-19 menyebut adanya perahu besar yang digunakan untuk perang yaitu perahu Pancalang, lengkap dengan tabuhan musik guna menyemangati para pendayung. Menurut Prof. Farida, nilai sosial itu yang membuat bidar punya posisi khusus.
“Ia melambangkan solidaritas, disiplin, dan semangat kolektif. Itu warisan budaya yang tidak boleh hilang,” katanya.

Sejarawan, Prof. Dr. Farida, M.Si
Karena itu, baik pelaku maupun sejarawan menilai, tradisi bidar butuh ruang lebih besar. Encik Jaka berulang kali menekankan agar perlombaan bidar tidak hanya digelar sekali setahun.
“Kalau bisa dua atau tiga kali dalam setahun, anak-anak muda lebih semangat. Jangan cuma 17 Agustus. Bidar ini perlu ruang lebih luas,” ujarnya penuh harap.
Prof. Farida pun mendukung gagasan itu. Ia bahkan menyarankan pemerintah menetapkan hari khusus perayaan bidar agar tradisi ini tidak sekadar jadi atraksi wisata.
“Kalau ada Hari Bidar Palembang, masyarakat akan merasa memiliki. Itu bukan sekadar festival, tapi pengakuan budaya,” tegasnya.
Harapan ini bukan tanpa alasan. Tradisi serupa di daerah lain, seperti pacu jalur di Riau, bisa berkembang karena ditopang event reguler dan dukungan pemerintah. Palembang, dengan Sungai Musi yang legendaris, seharusnya mampu melakukan hal serupa.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, membuka ruang untuk ide itu. Menurutnya, gagasan hari khusus bidar layak dikaji.
“Tentu harus jelas silsilah dan momentum sejarahnya. Tapi kalau itu bisa membuat tradisi lebih mengakar, kenapa tidak,” katanya.

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa.
Pernyataan ini memberi sinyal positif. Meski masih wacana, kehadiran pemerintah memberi harapan agar bidar tidak sekadar jadi artefak budaya yang sekali-sekali diturunkan ke sungai.
Lebih dari sekadar lomba, perahu bidar adalah wajah identitas wong Palembang. Ia bukan hanya perahu kayu panjang dengan puluhan pendayung, melainkan simbol gotong royong, kebanggaan, dan ingatan kolektif akan Sungai Musi.
Karena setiap kali dayung mengayuh arus Musi, sejatinya bukan hanya perahu yang bergerak. Itu adalah denyut sejarah, jiwa solidaritas, dan napas kebudayaan Palembang yang akan tetap hidup, selama ada yang mau merawatnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....