Mengarungi Sungai Musi, Menghidupkan Kembali Denyut Sejarah Palembang
- 25 Agt 2025 21:38 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Forum Wisata dan Budaya (Forwida) Sumatera Selatan (Sumsel) mengajak masyarakat kembali menelusuri tepian Sungai Musi, Palembang. Bukan sekadar berjalan-jalan, kegiatan yang digelar pada Minggu (24/8/2025) ini menjadi upaya kolektif untuk menghidupkan kembali denyut sejarah yang telah membentuk jiwa kota.
Perjalanan dimulai dengan menaiki ketek-ketek, perahu tradisional Palembang. Getaran mesin dan gemericik air seolah menjadi musik pembuka yang mengiringi para peserta menyusuri sungai. Dari atas air, pemandangan kota terasa berbeda; rumah-rumah panggung, jembatan yang menjulang, dan arus sungai yang seakan membisikkan cerita masa lalu.
Tujuan pertama adalah Pulau Kemaro, sebuah pulau yang tak hanya dikenal karena legenda cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah, tetapi juga sebagai saksi bisu pertempuran heroik. Di sini, peserta diingatkan kembali akan sejarah perjuangan Kesultanan Palembang Darussalam melawan kolonial Belanda, di mana nama Kapitan Bongsu disebut sebagai panglima yang berjuang mempertahankan marwah kota.
Perjalanan berlanjut ke Pulau Seribu, tempat makam Ibu Raden Fatah berada. Suasana hening menyelimuti, mengundang refleksi mendalam tentang peran penting perempuan dalam sejarah lokal. Dari sana, rombongan diarahkan menuju kampung songket dan jumputan Tuan Kentang, 15 Ulu. Di tengah rumah-rumah kembar peninggalan masa lalu, jemari-jemari halus pengrajin menenun benang emas menjadi songket yang indah. Setiap helai kain bukan hanya busana, melainkan narasi panjang tentang kerja keras, estetika, dan identitas Palembang.
Sepanjang perjalanan, Sungai Musi menjadi saksi bisu. Bagi masyarakat Palembang, sungai adalah lebih dari sekadar bentang geografis, melainkan ruang kontemplasi dan sumber inspirasi.
Ketua Forwida, Diah K Pratiwi, mengatakan, kegiatan ini sangat penting, terutama bagi generasi muda. “Kami ingin masyarakat, terutama anak-anak muda, merasakan langsung bahwa sungai bukan hanya bagian dari geografi, tapi juga dari jiwa Palembang. Melalui wisata ini, kami tidak sekadar mengenang, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang hampir terlupakan,” ujarnya.
Bagi para peserta, pengalaman ini bukan hanya perjalanan menyusuri sungai, melainkan perjalanan menyusuri ingatan kolektif sebuah kota yang dibangun di atas air. Setiap perahu yang melaju, setiap kain songket yang ditenun, hingga setiap makam yang diziarahi, semuanya menjadi pengingat bahwa Palembang adalah kota dengan warisan sejarah dan budaya yang sangat kaya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....