Yellow Canephora, Harapan Baru Kopi Pagar Alam
- 21 Agt 2025 22:19 WIB
- Palembang
KBRN, Pagar Alam: Sinar mentari menembus rimbunnya kebun kopi ketika Frans Wicaksono (58) —yang akrab disapa Om Frans— melihat sesuatu yang tidak biasa di antara pohon-pohon kopi robusta miliknya. Di tengah deretan buah kopi merah yang lazim ditemui saat musim panen, ada sekelompok buah kopi yang berwarna kuning cerah.
“Awalnya saya kira buah itu belum matang,” ujarnya sambil tersenyum, mengingat kembali momen itu saat ditemui di kebunnya di Rimba Candi, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan, Kamis (21/8/2025). “Beberapa waktu kemudian hingga buah kopi matang, warnanya tak kunjung memerah, tetapi tetap kuning,” tambahnya.
Kebun kopi milik Om Frans bukanlah lahan baru. Sejarahnya dimulai dari sang ayah, Ignasius Suparman, yang mulai menanam kopi di kawasan Rimba Candi pada 1991. Kala itu, ia melanjutkan jejak salah satu anaknya yang menjadi peserta program transmigrasi pada era 1970–1980.
“Saya baru meneruskan usaha kopi keluarga ini pada tahun 2015,” jelas Om Frans. “Sejak itu, saya berusaha memperkenalkan kopi dari kawasan Rimba Candi ke masyarakat luas.”
Penemuan kopi berwarna kuning yang kemudian ia beri nama Yellow Canephora, menjadi momentum penting. Bukan hanya karena keunikannya, tetapi karena kualitas rasanya terbukti luar biasa. Berdasarkan uji cupping score Specialty Coffee Association of America (SCAA) yang dilakukan pada 19 November 2019, kopi ini mencetak skor 83,125, angka yang menempatkannya dalam kategori very good specialty.
“Kopi kuning ini punya karakter rasa caramelly, spicy, clean, vanilla, chocolaty, dan brown sugar. Ini bukan hanya soal warna, tapi kualitasnya memang beda,” jelasnya bangga.
Sumatera Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Namun sayangnya, pamor kopi Sumsel—termasuk dari Pagar Alam—masih belum setenar kopi Gayo, Mandailing, atau Lampung di mata publik.
Padahal, menurut Ketua Desa Wisata Gunung Dempo, Wawan Alamsyah, Pagar Alam sudah dikenal sebagai penghasil kopi sejak zaman kolonial.
“Namun mirisnya, kopi Pagar Alam yang tumbuh subur di kaki Gunung Dempo malah tidak banyak orang ketahui. Branding kopi kita masih kalah jauh dibandingkan daerah lain,” kata Wawan.
Namun kini, harapan itu mulai menyala kembali. Berkat dedikasi Om Frans, Yellow Canephora bisa menjadi simbol baru kebangkitan kopi dari Sumsel.
“Om Frans berkomitmen untuk mengangkat martabat kopi Pagar Alam agar lebih dikenal khalayak ramai,” lanjut Wawan. “Ini juga sejalan dengan upaya Desa Wisata Gunung Dempo untuk mengembangkan potensi edukasi pertanian, termasuk kopi.”
Langkah yang dilakukan Om Frans bukan hanya urusan bisnis atau pertanian, tetapi juga menyentuh sektor pariwisata berbasis edukasi. Komunitas di Gunung Dempo pun melihat peluang untuk menjadikan kopi sebagai daya tarik wisata sekaligus media pembelajaran.
“Semoga ini menjadi langkah awal dan kolaborasi ke depannya untuk mengembangkan potensi pariwisata edukatif. Demi kemajuan Pagar Alam, khususnya di Desa Wisata Gunung Dempo,” harap Wawan.
Yellow Canephora tak hanya membawa harapan baru bagi petani, tapi juga memperkuat identitas lokal dan membuka jalan bagi Pagar Alam untuk bersaing di peta kopi nasional, bahkan internasional.
Dan siapa sangka, semua itu bermula dari sebuah kebetulan—buah kopi yang tak berubah merah, melainkan tetap kuning, namun menyimpan rasa dan potensi yang begitu istimewa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....