Cincin Kawin, Pegadaian, dan Cerita Hidup Dian

  • 20 Agt 2025 10:32 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Dian perlahan mengiris bolu keju yang menjadi pilihan camilannya sore itu. Kami berbincang ringan saat jeda - di tengah rentetan tugas - Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang mempertemukan kami dalam satu kelompok.

Tapi bukan kue penuh kandungan gula itu yang menarik perhatian saya, melainkan cincin emas yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Rasa penasaran - atau lebih tepatnya iseng - saya pun muncul.

“Itu cincin kawin awet ya?” kata saya dengan nada bercanda.

Pertanyaan yang seharusnya berakhir dengan tawa ringan justru memantik kenangan. Dian meletakkan garpunya, menyentuh cincinnya, lalu berbagi cerita yang tak saya duga.

“Cincin kawin ku sudah lama diganti. Aku gak suka modelnya. Dulu malah lebih sering tertinggal di Pegadaian,” katanya, sambil mengenang masa awal pernikahannya.

Baginya, menggadaikan cincin kawin bukan keputusan mudah. Tapi di saat kebutuhan rumah tangga mendesak, Pegadaian menjadi jawaban tercepat.

Cerita Dian bukan kisah langka. Selama 125 tahun, Pegadaian telah menjadi solusi nyata bagi jutaan keluarga Indonesia — dari sekadar menyambung hidup, hingga merintis investasi masa depan.

Pegadaian memang telah menjadi pilihan bagi banyak keluarga di Indonesia sebagai solusi mencari dana talangan. Buktinya, perusahaan ini tetap tegak berdiri selama 125 tahun. Tidak hanya melayani gadai emas, Pegadaian juga kini berkembang memberikan beragam layanan kepada nasabahnya.

“Selain layanan gadai, sekarang kami juga memberikan layanan produk non-gadai mencakup layanan pembiayaan seperti KUR dan cicil emas. Selain itu, Pegadaian juga menyediakan berbagai layanan jasa seperti pengiriman uang, multi pembayaran online, dan safe deposit box,” beber Kepala Departemen Bisnis Support Pegadaian Kanwil III Palembang, Imanuael Agung, dalam keterangannya kepada wartawan di Hotel Aston Palembang, Rabu (13/8/2025).

Pimpinan Wilayah Pegadaian Kanwil III Palembang, Novryandi, dalam sebuah sesi paparan mengatakan, bisnis emas Pegadaian kini telah berkembang pesat. Pada bulan Februari 2025, Pegadaian telah resmi memiliki bullion bank atau bank emas dengan diresmikan langsung oleh Presiden RI, Prabowo. Sejak saat itu, tren transaksi emas Pegadaian melesat.

“Untuk transaksi normal di Sumbagsel, kami menjual 30 kg emas per bulan tapi pada bulan April penjualan kami tembus 150 kg per bulan,” kata dia.

Angka itu mencerminkan kepercayaan masyarakat yang makin tinggi terhadap investasi emas. Namun, tantangan masih ada. Meski literasi masyarakat Sumbagsel terhadap investasi emas sudah mencapai 90 persen, angka inklusinya – mereka yang benar-benar melakukan investasi – baru 45 persen.

“Kami terus berupaya agar lebih banyak masyarakat yang mau berinvestasi emas. Salah satunya dengan memberikan pemahaman tentang investasi emas kepada Gen Z melalui penempatan outlet kami di kampus-kampus agar mereka menyadai bahwa menabung emas adalah aset masa depan,” tandasnya.

Bagi Dian, cincin kawin bukan sekadar perhiasan. Ia adalah simbol perjalanan: cinta, perjuangan, dan harapan. Di balik kilau emas itu, ada cerita tentang jatuh bangun sebuah rumah tangga — dan bagaimana Pegadaian hadir bukan hanya sebagai tempat gadai, tapi penopang mimpi.

Siapa sangka, dari cincin sederhana yang pernah tergadai, kini tumbuh kepercayaan akan investasi jangka panjang. Dan mungkin, di tangan generasi selanjutnya, emas bukan lagi soal perhiasan… tapi soal visi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....