Cerita Bidan Desa Siaga Layani Kesehatan Umum

  • 25 Jun 2025 10:25 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Bidan yang bertugas di daerah pedesaan termasuk di daerah yang masih tertinggal memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan. Tidak hanya pelayanan kesehatan ibu dan anak, namun juga masyarakat umum yang mengharuskan siaga 24 jam.

Hal ini diceritakan Rosmiati (36), seorang Bidan di Desa Pandan Kecamatan Tanah Abang Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan (Sumsel) 12 tahun mengabdi di desa itu sebagai seorang bidan, banyak suka dan duka

“Sukanya melayani masyarakat dalam membantu persalinan hingga menciptakan kehidupan baru,” ungkap Rosmiati kepada rri.co.id, Rabu, (25/6/25).

Namun dukanya diakui Rosmiati, sebagai seorang bidan harus siaga 24 jam melayani kesehatan masyarakat umum meskipun kondisi tubuh sedang sakit. “Pernah saya sakit, anak sakit, ada pasien sakit yang minta kunjungan pada malam hari, saya sempat menolak akan tetapi pasien tersebut tidak terima, sehingga tepaksa harus datang ke rumahnya,” ujar Rosmiati ibu dari tiga anak itu.

Meskipun sedang sakit, Rosmiati mengaku kerap berusaha memberikan layanan, apalagi dahulu akses jalan dan transportasi dan komunikasi tidak semudah saat ini yang semakin mudah digunakan.

“Kalau ada yang mau melahirkan, tidak bisa ke klinik, terpaksa sebagai seorang bidan harus mengujungi rumah pasien, meski hujan dan kondisi malam yang gelap,” sambungnya.

Dalam satu hari, Rosmiati menceritakan melayani 10 hingga 15 pasien kesehatan umum dengan berbagai keluhan di Poskesdes tempatnya bekerja. Sedangkan untuk pelayanan melahirkan, 3 hingga 5 pasien dalam satu bulan.

“Pelayanan kesehatan umum juga termasuk dalam pemeriksaan ibu hamil dan bayi, serta konsultasi seputar layanan reproduksi lainnya,” jelas Rosmiati.

Pengabdian Rosmiati dalam melayani kesehatan keluarga di Desa Pandan, turut mendukung desaitu mendapatkan Juara 3 Nasional dalam Lomba Kampung Keluarga Berencana (KB).

“Alhamdulilah, desa ini menerima penghargaan kampung KB sebagai juara pertama, kemudian di bulan ini berhasil masuk tiga besar nasional,” tutup Rosmiati

Kini, setelah belasan tahun Rosmiati sudah bernafas lega sudah satu tahun ini pemerintah daerah menjadikan beberapa bidan desa termasuk Rosmiati menjadi ASN dengan status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

“Sebenarnya menjadi tenaga honor ataupun Tenaga Sukarela (TKS) sangat tidak membantu memberikan kesejahteraan untuk kami bidan di pedesaan, semoga kedepan semua bidan dapat di angkat menjadi ASN,” harapnya.

Cerita Rosmiati sama seperti yang disampaikan Sri Armi, bidan di Desa Tanjung Laut Kecamatan Suak Tapeh Kabupaten Banyuasin, Sumsel. Selama bertugas memiliki banyak tanggung jawab, selain harus siaga 24 jam, bidan desa tidak hanya melayani persalinan namun juga pelayanan kesehatan umum.

“Penyakit umum juga menjadi keluhan warga, sebagai tenaga kesehatan yang ada di wilayah ini mau tidak mau harus melayani semampunya,” ungkap Sri kepada rri.co.id, Rabu (25/6/25).

Meskipun tugas dan tuntutan sebagai seorang bidan desa sangat banyak namun sebagai pelayanan kesehatan Sri tetap melayani sepenuh hati. “Bukan karena hanya sumpah sebagai bidan, namun jalinan bidan desa sangat dekat seperti kekeluargaan dengan masyarakat,” katanya.

Sri pun berharap pemerintah terus melakukan pengangkatan tenaga ASN untuk bidan yang masih berstatus honor di Kabupaten Banyuasin. “Agar profesi bidan desa lebih sejahtera, mengingat bidan desa garda terdepan dalam melayani kesehatan masyarakat desa,” tutup Sri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....