Pak Nyaman dan Harapan Pupuk untuk Ketahanan Pangan
- 28 Feb 2025 23:55 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang : Di sebuah rumah sederhana di Jalan Kebun Jeruk, Talang Keramat, Kabupaten Banyuasin, Pak Nyaman, seorang petani berusia 70 tahun, memulai harinya sebelum fajar menyingsing. Usianya telah renta, tetapi semangatnya tetap membara. Setiap pagi, ia berjalan ke lahan kecilnya yang kurang dari satu hektar, membawa cangkul dan harapan, menanam sawi, kangkung, dan bayam yang menjadi tumpuan hidupnya.
Tetesan keringatnya jatuh ke tanah yang ia garap dengan susah payah. Ia tahu, tanpa pupuk yang cukup, hasil panennya akan jauh dari harapan. "Tanpa pupuk, daun sawi bisa kuning sebelum tumbuh besar. Kami, petani kecil, sangat bergantung pada pupuk," ujarnya dengan suara lirih.
Namun, mendapatkan pupuk tidak selalu mudah. Beberapa kali, Pak Nyaman harus menunggu lebih lama dari biasanya karena pasokan yang terbatas. "Kadang pupuk datang terlambat, kadang harganya naik. Kalau sudah begitu, kami hanya bisa berharap agar tanaman tetap bertahan," tambahnya.
Kondisi ini disadari oleh PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (Pusri), yang terus berupaya memastikan ketersediaan pupuk bagi petani seperti Pak Nyaman. Pada Oktober 2023, Pusri mengumumkan rencana pembangunan dua pabrik baru dengan investasi sekitar Rp10,52 triliun. Pabrik ini ditargetkan mampu memproduksi 445.500 ton amonia dan 907.500 ton pupuk urea per tahun.
Direktur Utama PT Pusri, Daconi Khotob, menegaskan bahwa pembangunan pabrik baru ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memastikan ketersediaan pupuk bagi petani. "Kami ingin memastikan pupuk tersedia tepat waktu dengan harga yang terjangkau, sehingga petani dapat meningkatkan hasil panennya dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional," ujarnya.
Sementara itu, Direktur PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa stok pupuk subsidi di Sumatera Selatan cukup untuk satu tahun ke depan, dengan ketersediaan mencapai 400.000 ton. "Terkait stok pupuk nasional, saat ini ada 1,5 juta ton yang kami siapkan di seluruh wilayah. Khusus di Sumatera Selatan, stoknya hampir 400.000 ton," kata Rahmad dalam sebuah rapat koordinasi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa alokasi pupuk untuk tahun 2025 lebih tinggi dibandingkan realisasi penyerapan tahun 2024 yang hanya mencapai 262.199 ton. “Jadi alokasi tahun 2025 sudah lebih tinggi dibandingkan serapan di tahun 2024,” tuturnya.
Namun, kendala lain masih muncul. Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, Sudaryono, mengungkapkan bahwa penebusan pupuk di Sumatera Selatan baru mencapai 79 persen dari total alokasi yang tersedia. "Jadi memang belum maksimal," katanya. Meski demikian, ia memastikan daftar penerima pupuk untuk tahun 2025 telah disusun sejak Desember 2024, sehingga diharapkan distribusi pupuk tahun ini lebih optimal dan tepat sasaran.
Bagi Pak Nyaman, janji-janji ini membawa sedikit kelegaan. Ia hanya ingin satu hal: agar pupuk selalu tersedia ketika ia membutuhkannya. "Saya sudah tua, tapi selama pupuk ada dan tanaman saya tumbuh subur, saya akan tetap bertani," ujarnya sambil menatap lahan kecilnya yang hijau.
Di tengah tantangan yang masih membayangi sektor pertanian, petani seperti Pak Nyaman tetap berjuang. Mereka adalah pilar ketahanan pangan Indonesia, yang meskipun bekerja dalam kesederhanaan, memiliki peran besar dalam menjaga ketersediaan pangan bagi negeri ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....