Martabak 3G Bu Dewi Jaga Harga di Tengah Bahan Baku Naik
- 31 Agt 2026 23:13 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Martabak 3G Bu Dewi menjaga harga produk tetap terjangkau sebagai strategi mempertahankan pelanggan di tengah peningkatan biaya bahan baku.
- Pengelola usaha Gabrinna May Selly menyesuaikan harga dengan kemampuan masyarakat tanpa mengorbankan kualitas produk.
- Kenaikan harga bahan baku seperti sagu, santan, dan gula menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha kuliner dalam menjaga keseimbangan antara kualitas dan keterjangkauan.
RRI.CO.ID, Palembang - Martabak 3G Bu Dewi mempertahankan harga produknya agar tetap terjangkau masyarakat di tengah meningkatnya biaya bahan baku. Strategi tersebut dilakukan bersamaan dengan inovasi menu untuk menjaga pelanggan sekaligus mempertahankan kualitas makanan.
Pengelola Martabak 3G Bu Dewi, Gabrinna May Selly atau Yuk Gina, mengatakan kenaikan harga sagu, santan, dan gula menjadi tantangan bagi usaha kuliner. Menurutnya, pelaku usaha perlu menyesuaikan harga dengan kemampuan masyarakat tanpa mengorbankan kualitas produk.
“Sekarang bukan soal murah atau mahal, tetapi kualitas rasa dan keterjangkauan,” ujar Gina dalam Obrolan UMKM RRI, Kamis, 27 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, kenaikan biaya produksi tidak selalu langsung diikuti dengan kenaikan harga produk. Bahkan, harga martabak sempat dipertahankan selama sekitar dua tahun sebelum akhirnya dilakukan penyesuaian.
Selain menjaga keterjangkauan harga, Martabak 3G Bu Dewi di Jalan Dwikora II Nomor 2550, Demang Lebar Daun, terus mengembangkan variasi makanan. Inovasi tersebut menjadi upaya memperluas pilihan pelanggan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha di tengah perubahan biaya produksi.
Salah satu menu yang dikembangkan setelah Lebaran 2026 adalah nasi minyak dengan racikan rempah, minyak samin, bawang, kapulaga, cengkeh, dan kismis. Produksinya mencapai sekitar lima kilogram per hari dan menjadi salah satu menu yang melengkapi produk kuliner yang ditawarkan.
“Produksi nasi minyak sampai lima kilogram setiap hari. Menu tersebut menjadi salah satu upaya memperluas pilihan makanan yang dapat dinikmati pelanggan,” ungkap Gina.
Gina menegaskan, inovasi produk tetap dilakukan dengan mempertahankan prinsip utama usaha, yakni menyediakan makanan berkualitas dengan harga yang dapat dijangkau masyarakat. Kualitas tersebut juga dijaga melalui resep keluarga yang diwariskan dari sang nenek kepada anak dan cucunya.
Sementara itu, saudara kembar Gina, Gabrilla May Sella atau Yuk Gaby, mengatakan resep makanan tradisional keluarga tetap dipertahankan dalam pengembangan usaha. Selain martabak dan nasi minyak, usaha tersebut menyediakan pempek, lakso, bubur, gandus, dadar jiwo, talam, getuk, serta berbagai kue tradisional khas Palembang.
“Sebagian besar resep yang digunakan berasal dari sang nenek dan kemudian diteruskan kepada keluarganya,” jelas Gaby.
Menurutnya, proses pewarisan resep berlangsung secara langsung melalui praktik tanpa menggunakan catatan dengan takaran bahan yang terperinci. Gina dan Gaby kemudian mempelajari karakter setiap bahan melalui pengalaman hingga mampu menentukan komposisi makanan secara tepat.
Upaya mempertahankan harga, mengembangkan menu, dan menjaga resep keluarga menjadi strategi Martabak 3G Bu Dewi menghadapi tantangan usaha kuliner. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa inovasi dan pelestarian makanan tradisional dapat berjalan beriringan untuk mempertahankan pelanggan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....