Kreativitas UMKM Palembang: Jual Roti Tiga Rp10 Ribu dari Bagasi Mobil
- 22 Agt 2026 08:10 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Seorang pelaku UMKM bernama Ade di Palembang menggunakan konsep car boot sale untuk menjual roti dengan berbagai varian rasa dari dalam bagasi mobil yang terbuka.
- Strategi ini dilakukan sebagai respons terhadap tingginya biaya sewa tempat usaha yang kerap memberatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
- Kreativitas dalam menyiasati modal menjadi kunci bertahan hidup bagi UMKM, khususnya di lokasi strategis seperti Jalan Demang Lebar Daun di dekat Rumah Makan Pindang Meranjat Bu Ucha.
RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah tingginya biaya sewa tempat usaha yang kerap mencekik para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), kreativitas menyiasati modal menjadi kunci bertahan hidup. Di Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, deretan roti dengan belasan varian rasa tertata rapi bukan di etalase toko mewah, melainkan dari dalam bagasi mobil yang terbuka.
Lapak kaki lima berkonsep car boot sale ini diusung oleh Ade. Menjelang petang, persis di dekat Rumah Makan Pindang Meranjat Bu Ucha, kendaraan pribadinya disulap menjadi ruang pajang jajanan murah meriah.
Ade menawarkan paket harga yang ramah di kantong: tiga buah roti dibanderol Rp10.000, lima roti Rp18.000, dan enam roti seharga Rp20.000. Strategi penetapan harga ini sengaja dirancang untuk merangkul seluruh spektrum konsumen, mulai dari kalangan menengah ke atas hingga menengah ke bawah.
Keputusan memanfaatkan bagasi mobil diakui Ade murni untuk memangkas pengeluaran operasional agar tidak terbebani sewa tempat harian maupun bulanan.
"Kalau untuk tempat kan ada biaya tambahan, sedangkan mobil sudah punya, jadi lebih mengefisienkan biaya," kata Ade saat ditemui di lapaknya, Kamis, 20 Agustus 2026.
Inovasi berdagang menggunakan kendaraan ini telah dilakoni Ade selama tiga tahun terakhir. Dalam sehari, ia membagi jadwal berjualannya di dua titik strategis. Pagi hari, pukul 06.30 hingga 10.30 WIB, ia melayani pembeli di kawasan Pasar 26. Memasuki sore hari, tepatnya pukul 15.00 hingga 18.00 WIB, giliran bahu Jalan Demang Lebar Daun yang disinggahinya dari Senin hingga Sabtu.
Guna memanjakan lidah pembeli, Ade menyediakan sedikitnya 17 pilihan rasa unggulan. Mulai dari kelapa putih, kelapa gula aren, pisang cokelat, pisang keju, meises, nanas, srikaya, vanila susu, hingga varian gurih seperti sosis dan donat. Penjual juga melayani pesanan khusus untuk rasa buah seperti stroberi dan bluberi.
Meski begitu, roda bisnis tak selalu berputar mulus. Ade mengaku sejak Februari 2026, volume penjualannya mengalami penurunan drastis hingga mencapai 50 persen. Selain penurunan daya beli, ketiadaan peneduh atau tenda saat cuaca buruk di jalanan kerap menjadi kendala fisik utama.
Tak hanya itu, bayang-bayang penertiban dari petugas Satpol PP maupun Dinas Perhubungan juga menjadi konsekuensi yang harus dihadapinya sebagai pedagang pinggir jalan.
Sadar akan risiko tersebut, Ade senantiasa menjaga posisi kendaraannya agar tidak memakan bahu jalan dan mengganggu arus lalu lintas. Di tengah terjangan badai ekonomi, ia memendam harapan agar iklim usaha mikro di Palembang kembali bergairah dan mendapat ruang untuk terus berkembang.
Penulis: Alya Zahira Zaldi, Mahasiswa Magang Jurusan Ilmu Komunikasi, UIN Raden Fatah Palembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....