Berawal dari Hobi, Bakehouse Tumbuh Jadi Kafe Favorit di Palembang
- 17 Jul 2026 13:25 WIB
- Palembang
Poin Utama
- Pipit Permatasari memulai Bakehouse dari hobi membuat kue saat pandemi COVID-19 dan kini telah berkembang menjadi kafe favorit di Palembang dengan ekspansi bangunan dan menu yang terus bertambah.
- Sebagai lulusan pariwisata dengan konsentrasi kitchen, Pipit memiliki pengalaman bekerja sebagai chef profesional di Dubai dan berbagai negara lain sebelum memutuskan membangun bisnis kuliner.
- Bakehouse melakukan adaptasi konsep dari girly aesthetic yang eksklusif menjadi desain yang lebih inklusif dengan menambah fasilitas seperti area bermain anak dan variasi menu yang beragam untuk melayani semua segmen pelanggan.
RRI.CO.ID, Palembang - Berawal dari hobi membuat kue saat pandemi COVID-19, siapa sangka usaha rumahan yang dijalankan Pipit Permatasari kini berkembang menjadi salah satu kafe favorit di Palembang. Di balik kesuksesan Bakehouse yang merupakan cafe hits di Palembang, ternyata tidak pernah ada rencana besar untuk membangun sebuah bisnis kuliner.
Pipit menceritakan bahwa dirinya merupakan perempuan asal Padang yang tumbuh besar di Bandung. Lulusan pariwisata dengan konsentrasi kitchen tersebut pernah berkarier sebagai chef di Dubai dan beberapa negara lain bersama sang suami. Bahkan, keduanya sempat menjalani hubungan jarak jauh ketika suaminya bekerja di Afrika. “Awalnya aku memang maunya terus kerja di luar negeri sebagai chef. Jadi sama sekali enggak kepikiran buka kafe,” kata Pipit dalam program talkshow Santai Siang UMKM bersama Pro 2 RRI Palembang, Rabu, 8 Juli 2026.
Saat pandemi membuat aktivitas masyarakat terbatas, Pipit yang tinggal di Palembang merasa memiliki banyak waktu luang. Jauh dari keluarga membuatnya mencoba mengisi waktu dengan membuat kue dan menjualnya kepada teman-teman terdekat.
“Pas masa covid dulu musimnya kita kirim-kirim makanan karga gabisa dine in, ternyata responnya lumayan bagus, mangkanya kalau pelangganku yang dari lama itu pasti tau kalau bakehouse itu tumbuh dari café kecil terus baru nambah nambah lagi bangunannya dan menunya yang mana itu ngikut alur aja, ga ada target harus ada berapa cabang berapa cabang, mangkanya sekarang Alhamdulillah nerasa respon orang bagus aku ikut seneng, yang awalnya aku LDR sama suamiku sekarang malah suamiku harus ikut pulang untuk menghandle bakehouse ini” tambah Pipit
Dari situlah Bakehouse perlahan tumbuh. Bermula dari usaha kecil, kemudian berkembang menjadi kafe yang bangunannya terus bertambah mengikuti kebutuhan pelanggan. Selain perjalanan bisnisnya, Pipit juga membagikan cerita di balik konsep interior Bakehouse yang identik dengan nuansa feminin.
Menurutnya, sejak awal melihat bahwa penikmat dessert didominasi perempuan. Karena itu, konsep girly dipilih agar pelanggan merasa nyaman menikmati waktu bersama teman. Namun, seiring berjalannya waktu, Pipit menyadari konsep yang terlalu feminin justru membuat sebagian pelanggan laki-laki merasa kurang nyaman. Bahkan, Pipit pernah mendengar cerita pasangan yang sempat berdebat karena sang pria merasa tempat tersebut terlalu cewek banget.
Pengalaman itu menjadi bahan evaluasi bagi Bakehouse. “Aku akhirnya sadar enggak bisa terlalu idealis. Branding girly tetap dipertahankan, tapi dibuat lebih general supaya semua orang nyaman, baik pasangan, keluarga, maupun anak-anak,” jelas Pipit.
Perubahan konsep tersebut juga diikuti dengan penambahan fasilitas dan variasi menu. Jika sebelumnya Bakehouse dikenal sebagai tempat menikmati dessert, kini pelanggan dapat menemukan berbagai pilihan hidangan mulai dari appetizer, makanan utama, minuman, hingga aneka dessert. Bakehouse juga menghadirkan area bermain anak. Fasilitas tersebut lahir dari pengalaman pribadi Pipit sebagai seorang ibu yang memahami kebutuhan orang tua untuk menikmati waktu makan tanpa khawatir anak merasa bosan. “Aku pengin para mama bisa makan dengan nyaman, sementara anak-anak tetap punya tempat bermain yang aman,” ujarnya.
Dalam hal inovasi menu, Pipit mengungkapkan bahwa riset menjadi bagian penting dari perkembangan Bakehouse. Pipit rutin mengikuti tren kuliner sekaligus mencari inspirasi saat bepergian ke berbagai negara. Baginya, setiap perjalanan bukan sekadar liburan, melainkan kesempatan untuk mempelajari budaya dan teknik memasak yang nantinya bisa diterapkan di Bakehouse.
Saat berkunjung ke Jepang, misalnya, Pipit mengikuti kelas membuat ramen. Sementara ketika berada di Korea Selatan, Pipit mempelajari berbagai hidangan khas seperti bulgogi dan kimbap, sekaligus membawa inspirasi menu kopi yang kemudian disesuaikan dengan lidah masyarakat Indonesia.
Meski terus berkembang, Pipit menegaskan bahwa masukan pelanggan tetap menjadi faktor terpenting dalam perjalanan Bakehouse. Ia mengaku selalu membuka ruang bagi kritik dan saran sebagai bahan evaluasi. “Kalau Bakehouse bisa berkembang sampai sekarang, itu karena customer. Jadi aku selalu terbuka sama kritik dan saran mereka supaya kami bisa terus jadi lebih baik,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....