Seth Godin Ungkap Perbedaan Brand dan Direct Marketing

  • 29 Apr 2026 19:34 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang – Perbedaan antara brand marketing dan direct marketing kembali menjadi sorotan dalam diskusi pemasaran modern. Banyak pelaku usaha dinilai keliru mengukur keberhasilan karena menggunakan metrik yang tidak tepat.

Video kanal Behind the Brand yang diunggah 7 Maret 2024 menghadirkan pandangan pakar pemasaran Seth Godin terkait hal tersebut. Ia menekankan pentingnya memahami fungsi masing-masing strategi pemasaran.

Dalam penjelasannya, Seth Godin menyebut direct marketing sebagai pemasaran yang dapat diukur secara langsung. Contohnya adalah iklan digital yang dapat dilihat hasilnya melalui klik, konversi, atau penjualan.

“Direct marketing is measured marketing. If you can measure it, you’re going to act differently,” kata Seth Godin dalam video tersebut.

Sebaliknya, brand marketing berfokus pada pembangunan identitas, kepercayaan, dan persepsi jangka panjang. Strategi ini tidak dapat diukur secara harian karena hasilnya bersifat akumulatif dan membutuhkan waktu.

Godin menegaskan bahwa kesalahan umum terjadi ketika pelaku usaha mencoba mengukur brand marketing dengan metrik direct marketing. Misalnya, mengandalkan jumlah like atau view sebagai indikator kekuatan merek.

“Jika Anda menghitung likes atau views sebagai ukuran brand, itu adalah kesalahan besar,” ujarnya.

Artikel analisis pemasaran dari TechEasify juga menguatkan pandangan tersebut. Disebutkan bahwa direct marketing berorientasi pada tindakan cepat seperti penjualan, sedangkan branding membangun preferensi jangka panjang konsumen.

Dalam artikel itu dijelaskan, direct marketing bekerja dalam jangka waktu singkat, sementara branding membutuhkan waktu berbulan hingga bertahun-tahun. Keduanya memiliki tujuan, metrik, dan pendekatan yang berbeda.

Pakar strategi pemasaran Jason Falls menegaskan perbedaan fungsi keduanya. “Direct response marketing helps people buy. Brand marketing helps people choose,” ujarnya dalam artikel tersebut.

Godin juga mengingatkan bahwa penggunaan metrik yang salah dapat merusak nilai merek. Ia menilai terlalu fokus pada angka klik dapat mendorong strategi pemasaran menuju kualitas rendah demi menarik perhatian cepat.

Menurutnya, pelaku usaha perlu menyeimbangkan kedua pendekatan tersebut. Direct marketing digunakan untuk mendorong transaksi, sementara brand marketing membangun kepercayaan dan loyalitas jangka panjang.

Pendekatan kombinasi dinilai menjadi strategi ideal di era digital. Dengan pemahaman yang tepat, bisnis dapat mengoptimalkan hasil pemasaran tanpa mengorbankan nilai merek.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....