Ukiran Palembang Bertahan di tengah Arus Modernisasi

  • 08 Apr 2026 22:07 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Di tengah derasnya arus modernisasi, eksistensi kerajinan ukiran khas Palembang kini menghadapi tantangan serius. Para perajin bertahan dengan segala keterbatasan di tengah menurunnya minat pasar dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Kerajinan ukiran Palembang yang dahulu menjadi simbol kemewahan kini mulai tersisih oleh produk furnitur modern. Perubahan selera konsumen yang cenderung praktis membuat karya tradisional semakin kehilangan tempat.

Salah seorang perajin ukiran khas Palembang yang beralamat di 19 Ilir Palembang, Dadang, mengungkapkan usaha ukiran mengalami penurunan signifikan sejak pandemi COVID-19. Kondisi tersebut berdampak langsung pada penjualan dan keberlangsungan usaha.

Ia mengatakan, sebelum pandemi, pesanan masih cukup stabil bahkan datang dari luar daerah. Namun kini, permintaan jauh menurun dan hanya sedikit pelanggan yang bertahan.

Dadang sedang melakukan pengecetan pada produk ukiran khas Palembang jenis bupet.

"Sekarang sepi, jauh menurun dibanding dulu," ujarnya, di Palembang, Rabu, 8 April 2026. Pernyataan itu mencerminkan kondisi nyata yang dihadapi para perajin saat ini.

Ukiran Palembang dikenal dengan motif khas yang sarat nilai budaya dan filosofi. Setiap ukiran dibuat dengan ketelitian tinggi menggunakan bahan kayu berkualitas seperti tembesu.

Proses pembuatan yang memakan waktu lama menjadi salah satu faktor tingginya harga produk. Untuk satu lemari ukiran, harga berkisar mulai dari dua juta hingga delapan juta rupiah.

"Bahan kayu tembesi sekarang sulit dan lumayan mahal," kata Dadang.

Harga tersebut dinilai sebanding dengan tingkat kesulitan dan keindahan hasil karya. Namun, daya beli masyarakat yang menurun membuat produk ini semakin sulit dipasarkan.

Selain faktor ekonomi, perubahan gaya hidup juga turut memengaruhi minat terhadap ukiran tradisional. Masyarakat kini lebih memilih furnitur minimalis yang dianggap lebih praktis dan modern.

Kondisi ini membuat jumlah perajin ukiran Palembang terus berkurang dari waktu ke waktu. Banyak di antaranya beralih profesi karena usaha yang tidak lagi menjanjikan.

"Banyak yang ganti profesi, kerja yang lain," ungkapnya.

Minimnya perhatian dan dukungan dari pemerintah turut menjadi sorotan para perajin. Mereka berharap adanya bantuan nyata, baik dalam bentuk promosi maupun pembinaan usaha.

Menurut Dadang, selama ini dukungan yang dirasakan masih sangat terbatas. Padahal, kerajinan ukiran merupakan bagian dari warisan budaya yang perlu dilestarikan.

"Bantuan dan perhatian dari pemerintah masih kurang," pungkasnya.

Upaya promosi dinilai penting untuk memperkenalkan kembali ukiran Palembang ke pasar yang lebih luas. Tanpa dukungan tersebut, keberadaan kerajinan ini dikhawatirkan semakin terpinggirkan.

Meski menghadapi berbagai tantangan, sebagian perajin tetap bertahan demi menjaga tradisi. Mereka terus memproduksi ukiran meski dengan jumlah terbatas.

Bagi para perajin, mempertahankan ukiran bukan sekadar mencari keuntungan. Lebih dari itu, mereka ingin menjaga identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Harapan besar pun disematkan agar kerajinan ukiran Palembang kembali bangkit. Dengan dukungan berbagai pihak, eksistensi ukiran diharapkan tetap bertahan di tengah modernisasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....