Sharing Disability Indonesia jadi Motor Penggerak Kemandirian Disabilitas
- 22 Feb 2026 06:36 WIB
- Palembang
RRI.CO.ID, Palembang - Sharing disability indonesia merupakan yayasan yang bergerak pada kesejahteraan disabilitas, kemandirian disabilitas dan disabilitas berkarya, yang terdiri dari penyandang disabilitas seperti tuna netra, tuna rungu, tuna daksa dan tuna grahita, berkumpul dalam yayasan tersebut membuat kerajinan kerajinan hasil karya para penyandang disabilitas.
Yayasan sharing disability indonesia, memberikan pembelajaran dan ilmu keterampilan kepada para penyandang disabilitas, yang berada dalam yayasan nya, hasil dari keterampilan tersebut dipasarkan oleh Teras Gendis yang menampung semua keterampilan hasil karya UMKM dari para penyandang disabilitas, agar mereka dapat berdikari dan mandiri sendiri.
Andre Agasi pelaku UMKM binaan dari Yayasan Sharing Disability, saat berbincang bersama RRI dalam acara Teras UMKM Lokak Kito kamis 19 Februari 2026, mengungkapkan bahwa keberadaan yayasan sangat membantu para penyandang disabilitas dalam proses pengembangan diri dan potensi dalam upaya kemandirian bagi para penyandang disabilitas.
”Penyandang disabilitas membutuhkan wadah yang mengajarkan beragam keterampilan mengenai kewirausahaan agar penyandang disabilitas dapat bersaing dengan mereka yang normal, kita dapat pengajaran beragam keterampilan dalam dunia usaha dan kewirausahaan seperti keterampilan tangan," ungkapnya.
Salah satu keterampilan yang didapat oleh Andre Agasi dan penyandang disabilitas yang ada di Yayasan Sharing Disability Indonesia, mendapatkan ilmu membuat sabun cuci piring yang dibuat dari Eko Enzim yang ramah terhadap lingkungan, diajarkan oleh komunitas Eko Enzim.
Penyandang disabilitas menyambut dengan penuh suka cita ilmu yang diajarkan oleh komunitas Eko enzim, dalam pembuatan sabun yang ramah lingkungan ini, dibuat dengan bahan alami yang mudah didapat.
”Bahan pembuatan Eko enzim ini sangat mudah didapatkan seperti kulit buah buahan yang di fermentasi, kita bisa membeli dari tukang buah atau tukang rujak,” ujar Andre.
Sementara untuk kesulitan yang dialami para penyandang disabilitas adalah pada takaran bahan dimana semuanya harus mereka hapalkan. "Jangan sampai salah dalam takaran saat pembuatan sabun cuci piring berbahan Eko enzim tersebut," ungkap Andre.
Ditambahkannya, hasil dari pembuatan sabun Eko enzim dipasarkan demi menunjang kemajuan yayasan dan juga kesejahteraan penyandang disabilitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....