Kisah Awan, Pengusaha Kerupuk Tembus Pasar Ekspor

  • 06 Feb 2026 02:50 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Usaha kerupuk kemplang khas Palembang milik Kurniawan dengan merek Awan Kerupuk Kemplang 988 menjadi bukti bahwa kegigihan, pembelajaran, dan adaptasi zaman mampu membawa UMKM bangkit dari keterpurukan hingga menembus pasar internasional.

Dirintis sejak awal tahun 2000-an secara sederhana dengan skala rumahan, usaha kerupuk ini bermula dari produksi sekitar 50 kilogram tepung. Namun perjalanan tidak selalu mulus. Kurangnya pemahaman pemasaran, sistem penjualan titip ke warung, serta keterbatasan akses promosi membuat usaha keluarga ini sempat bangkrut pada rentang tahun 2002 hingga 2004.

Kurniawan mengungkapkan, kegagalan tersebut berlanjut hingga ia mencoba meneruskan usaha pada 2005–2010. Meski mampu memproduksi, ia mengakui kesulitan terbesar justru pada pemasaran. Modal habis, kepercayaan diri runtuh, dan rasa putus asa sempat menghampiri.

“Tahun-tahun itu saya benar-benar down. Produksi bisa, tapi jualannya tidak jalan. Rasanya bukan rezeki saya di kerupuk,” ujarnya dalam acara obrolan Teras UMKM di Pro 4 RRI Palembang, Senin, 2 Februari 2026.

Titik balik terjadi pada 2014. Saat masih berstatus mahasiswa Fakultas Ekonomi, Kurniawan mulai kembali menekuni dunia kerupuk setelah sering berkunjung ke pabrik milik keluarganya. Dari sana, ia melihat peluang besar melalui pemasaran digital yang saat itu belum banyak dimanfaatkan pengusaha kerupuk Palembang.

Ia mulai memanfaatkan media sosial, Google Maps, dan website sederhana untuk memperkenalkan pabrik Kerupuk Awan 988. Upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Calon pembeli mulai datang langsung ke lokasi untuk memastikan keberadaan usaha tersebut.

Pada 2015, Kerupuk Awan 988 mencatat sejarah ekspor pertamanya dengan pengiriman sekitar 10 ton kerupuk mentah melalui Jakarta. Sejak saat itu, pasar luar negeri terus berkembang hingga menjangkau Vietnam, Taiwan, dan Australia.

“Ekspor itu bukan susah, yang susah kalau kita tidak mau belajar dan bertanya,” kata Kurniawan.

Puncaknya, pada 2025 lalu, Kurniawan berhasil mengekspor langsung dari Palembang untuk pertama kalinya. Ia mengurus seluruh dokumen ekspor dengan berkoordinasi bersama Bea Cukai, Karantina, dan Dinas Perdagangan Sumatera Selatan. Dukungan juga datang dari Bank Indonesia yang memfasilitasi acara pelepasan ekspor sebagai bentuk pengakuan atas kiprah UMKM daerah.

Tak hanya fokus pada usahanya sendiri, Kurniawan juga menginisiasi terbentuknya Perkumpulan Pengusaha Kerupuk Kemplang Palembang (PPKKP) dan dipercaya sebagai ketua, dengan Hendri sebagai wakil ketua. Komunitas ini menjadi wadah silaturahmi, komunikasi, dan perlindungan sesama pengusaha kerupuk.

Menurut Hendri, banyak pelaku usaha kerupuk menghadapi persoalan serupa, mulai dari permodalan, SDM, hingga risiko pelanggan bermasalah. Melalui komunitas, para pengusaha dapat saling berbagi informasi, termasuk peringatan terhadap customer tidak bertanggung jawab serta data tenaga kerja bermasalah.

“Dengan adanya paguyuban ini, kami jadi solid. Ada tempat bertanya, berbagi, dan saling menjaga agar tidak jatuh di lubang yang sama,” jelas Hendri.

Kurniawan menambahkan, pengalaman pahit penipuan dan pembayaran macet menjadi pelajaran penting. Kini ia menerapkan sistem penjualan yang lebih ketat dengan pembayaran tunai diutamakan serta perjanjian kerja sama yang jelas.

“Kepercayaan itu penting, tapi sistem juga harus jalan. Edukasi bagi pengusaha itu wajib,” tegasnya.

Kisah Awan Kerupuk Kemplang 988 menjadi gambaran nyata bahwa UMKM lokal Palembang mampu bangkit, beradaptasi dengan teknologi, dan bersaing di pasar global ketika didukung kemauan belajar, kolaborasi komunitas, serta sinergi dengan pemerintah. 

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....