Harga Cabai dan Bawang Turun, Sumsel Catat Deflasi 0,24 Persen

  • 05 Agt 2026 07:30 WIB
  •  Palembang
Poin Utama
  • Sumatera Selatan membalikkan tren dari inflasi menjadi deflasi 0,24 persen (mtm) pada Juli 2026 berkat melimpahnya pasokan hasil panen hortikultura dan penurunan harga emas.
  • Efektivitas ratusan operasi pasar, subsidi ongkos angkut, serta kerja sama antar-daerah (KAD) menjadi pemicu utama stabilnya harga pangan di akar rumput.
  • Memasuki Agustus 2026, TPID Sumsel bersiap siaga mengantisipasi lonjakan konsumsi jelang HUT RI ke-81 dan ancaman puncak musim kemarau.

RRI.CO.ID, Palembang - Gelombang kenaikan harga bahan pokok di Sumatera Selatan akhirnya mereda. Memasuki pertengahan tahun, Bumi Sriwijaya mencatatkan deflasi sebesar 0,24 persen (mtm) pada Juli 2026, membalikkan keadaan dari bulan sebelumnya yang sempat menguras dompet warga akibat inflasi 0,36 persen.

Laju inflasi tahunan Sumsel pun terkoreksi melandai ke angka 2,50 persen (yoy). Angka ini berada di bawah rata-rata nasional yang bertengger di level 2,88 persen.

Anjloknya indeks harga konsumen di Sumsel tak lepas dari melimpahnya pasokan hasil tani. Komoditas hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, cabai rawit, hingga tomat membanjiri pasar-pasar tradisional seiring datangnya puncak masa panen di berbagai wilayah sentra produksi sepanjang Juli. Penurunan harga emas perhiasan akibat membaiknya sentimen pasar global makin memperkuat arus deflasi tersebut.

Kendati demikian, penurunan harga meluas ini sempat tertahan oleh melesatnya permintaan beras dan bawang putih. Geliat ini didorong oleh kembali beroperasinya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyambut tahun ajaran baru sekolah.

Namun, ketenangan harga ini diprediksi mendapat tantangan baru pada Agustus 2026. Momentum kemeriahan HUT Kemerdekaan ke-81 RI serta ancaman puncak musim kemarau yang lebih kering memicu potensi lonjakan harga pangan.

Mengantisipasi skenario tersebut, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumatera Selatan langsung mengencangkan sabuk pengamanan berbasis strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif).

Guna membendung gejolak harga di tingkat konsumen, pasokan dari luar daerah terus digelontorkan. Ribuan ton komoditas didatangkan langsung lewat skema Kerjasama Antar Daerah (Business to Business), mulai dari 22,67 ton bawang merah asal Sumatera Barat hingga 3,68 ton cabai segar dari Kabupaten Magelang.

"Hingga akhir Juli 2026, kami bersama TPID telah menggelar lebih dari 381 kegiatan operasi pasar murah, SPHP, serta puluhan sidak pasar untuk memastikan stok aman dan harga tak melampaui HET," ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono, dalam keterangannya, Selasa, 4 Agustus 2026.

Tak hanya mengontrol harga di hilir, jalur distribusi pangan pun disuntik insentif. BI Sumsel mencatat telah memfasilitasi subsidi ongkos angkut sebanyak 77 kali dengan total 47,92 ton bahan pangan utama demi memangkas biaya logistik yang kerap memicu lonjakan harga.

Di sisi ketahanan jangka panjang, program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) kini bertransformasi menjadi rantai pasok terintegrasi. Dengan menggandeng ekosistem pesantren, koperasi, dan dukungan pembiayaan perbankan, Sumsel optimistis mampu menjaga perut warganya tetap aman, sekaligus menyokong penuh keberlanjutan program prioritas nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....