Reksa Dana Tumbuh Semakin Inklusif, Dorong Masyarakat Berinvestasi

  • 25 Apr 2026 20:15 WIB
  •  Palembang

RRI.CO.ID, Palembang - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) terus mendorong masyarakat lebih memahami sekaligus memanfaatkan instrumen investasi, khususnya reksa dana. Karena, data menunjukkan, total aset kelolaan (asset under management/AUM) industri reksa dana dibandingkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih tergolong rendah, yakni sekitar 4,38 persen.

“Angka ini tertinggal jauh dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang sudah mencapai sekitar 30 persen, bahkan Singapura lebih tinggi lagi. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa minat dan partisipasi masyarakat Indonesia dalam berinvestasi masih perlu didorong lebih kuat,” ujar Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, M Maulana, di Palembang, pada kegiatan Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana di Palembang, Kamis, 23 April 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari kampanye nasional untuk mendorong masyarakat lebih memahami sekaligus memanfaatkan instrumen investasi, khususnya reksa dana, yang dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan sangat besar di Indonesia. “Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, jumlah investor reksa dana saat ini masih relatif kecil,” ungkap Maulana.

Maulana menyebut kalau hingga saat ini, jumlah investor reksa dana tercatat sekitar 24,46 juta. “Meski meningkat signifikan dari sekitar 19 juta pada akhir tahun lalu, angka tersebut masih jauh dari potensi jumlah penduduk usia produktif yang mencapai hampir 197 juta orang,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Dewan APRDI 2026, Gresia Kusyanto, mengatakan, reksa dana merupakan instrumen investasi yang semakin inklusif. Jika sebelumnya produk ini tergolong eksklusif dengan minimum pembelian relatif besar dan harus melalui perbankan, kini masyarakat bisa mulai berinvestasi hanya dengan nominal kecil, bahkan mulai dari Rp10.000 melalui platform digital.

“Selain itu, proses pendaftaran dan transaksi juga semakin mudah karena dapat dilakukan secara online, lengkap dengan verifikasi identitas yang terintegrasi dengan data kependudukan. Sekarang investasi reksa dana sudah seperti belanja online. Mudah, cepat, dan bisa diakses siapa saja,” jelas Gresia.

Menurut Gresia, reksa dana juga dinilai aman karena dana investor dikelola oleh manajer investasi dan disimpan terpisah di bank kustodian yang diawasi OJK. “Skema ini memastikan dana nasabah tidak tercampur dengan aset perusahaan pengelola,” tuturnya.

Namun sayangnya, meski akses semakin mudah, tantangan terbesar masih berada pada aspek literasi. Banyak masyarakat yang belum memahami profil risiko investasi, bahkan cenderung tergiur iming-iming keuntungan besar dari investasi ilegal.

APRDI menekankan pentingnya prinsip “legal dan logis” dalam berinvestasi. Tawaran keuntungan tinggi dalam waktu singkat dinilai tidak masuk akal dan berpotensi merugikan. “Reksa dana tidak menjanjikan keuntungan pasti, tapi menawarkan pengelolaan investasi yang profesional dan sesuai profil risiko,” beber Gresia.

Kurangnya pemahaman ini juga kerap membuat investor pemula mengalami kerugian karena memilih instrumen yang tidak sesuai, sehingga menimbulkan trauma untuk kembali berinvestasi. Dalam kegiatan ini, Gresia juga memperkenalkan program investasi terencana dan berkala yang mendorong masyarakat untuk berinvestasi secara rutin. Konsepnya sederhana: menyisihkan sebagian pendapatan sejak awal, bukan menunggu sisa.

Strategi ini dinilai lebih efektif dalam membangun kebiasaan investasi jangka panjang. “Investasi itu bukan soal timing pasar, tapi konsistensi. Lebih baik rutin setiap bulan dibanding menunggu momen yang belum tentu tepat,” jelas Gresia.

Selain masyarakat umum, edukasi juga mulai menyasar generasi muda, termasuk mahasiswa hingga pelajar. Hal ini penting untuk membangun kebiasaan investasi sejak dini. APRDI ujar Gresia bahkan menggelar lomba penulisan artikel bagi jurnalis sebagai bagian dari kampanye literasi reksa dana, dengan total hadiah puluhan juta rupiah.

Ke depan, edukasi serupa diharapkan dapat menjangkau lebih luas, termasuk ke sekolah-sekolah, guna meningkatkan jumlah investor domestik sekaligus memperkuat pasar keuangan nasional.

Gresia menjamin Investasi di reksa dana tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga berdampak pada perekonomian secara keseluruhan. "Dana yang dihimpun akan disalurkan ke berbagai instrumen seperti saham dan obligasi, baik untuk sektor korporasi maupun pembiayaan pembangunan pemerintah,” pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....